Bandung, 11 tahun yang lalu

11 tahun yang lalu,
Kita masih sangat lucu
Masih menangis hanya karena Terjatuh atau mainan rusak
Waktu itu umur kita masih sekitar 5 tahun.
Kamu,
Dengan tubuh yang lebih tinggi dariku
Dengan celana olahraga yang kebesaran
Dan dengan cara bicaramu yang terburu-buru
Hahah
Sedangkan aku?
Aku yang selalu menggelung rambutku
Banyak sekali Jepit rambut yang terpasang di rambutku
Hingga orang-orang berkata aku adalah aksesoris berjalan,hahah.
Aku hanya tersenyum setiap kali kau berbicara
Tapi,
Kamu itu lucu
Dengan semua kepolosanmu
Aku tersipu setiap kali kau menggodaku
Ah, rasanya bahagia sekali saat mengingatmu
Terakhir kita bertemu, kita sudah genap berusia 6tahun
Dan sampai sekarang, sampai kita sama-sama duduk di bangku SMA
Kita tak pernah bertemu lagi
Aku rasa aku merindukanmu, Apa kau juga sama?
Aku yakin,
Kamu akan terlihat jauh lebih dewasa
Selama 11tahun aku menunggu kabarmu
Sampai akhirnya, Tepatnya kemarin
Aku baru ingat Ayahmu dan Ayahku adalah sahabat dekat sewaktu mereka SMA
Dan tiba-tiba saja Ayahku memberi tau kabarmu kepadaku.
Wajahmu masih sama seperti dulu
Wajah seorang pemimpin
Aku tau,
Kamu menjadi KetuaOsis disekolahmu, kan?
Aku sama sekali heran
Orang konyol sepertimu bisa menjadi ketua osis? Hahah.
Tapi, sampai sekarang aku masih Lost Contact dengammu
Entah kapan kita bisa berkomunikasi lagi
Dan entah kapan kita bisa bertemu lagi
Aku menunggumu
Aku tak tau kamu bagaimana sekarang
Aku hanya bisa berbicara lewat kata

11 tahun yang lalu
Di Bandung
Aku menunggumu.

Puncak yang sama,Kisah yang berbeda

Tempat yang sama.
Puncak yang sama.
Orang yang sama.
Tetapi dengan cerita berbeda. Tahun lalu,
Tepatnya beberapa minggu sebelum tahun baru
Aku dan kamu menuju tempat yang selalu kita idamkan
Puncak gunung
Kamu senantiasa bersamaku
Semangati diriku ketika langkah kakiku mulai merapuh
Saat yang lain Tertidur lelap
Kita masih terjaga saat itu
Banyak sekali bintang bertaburan di langit
Tapi, menurutmu aku lebih bersinar daripada bintang-bintang dilangit
Kita bertukar cerita malam itu
Rasanya nyaman sekali saat kau mengusap ubun-ubun kepalaku
Dan pada akhirnya akupun tertidur lelap
Matahari mulai menampakkan diri
Aku terbangun, dan kulihat kau masih terlelap
Aku tak tega membangunkanmu karena kulihat kau tertidur sangat lelap
Aku bahagia bersamamu
Dan sekarang, tepatnya tahun ini
Kita berada di tempat yang sama, puncak yang sama,dan waktu yang nyaris sama.
Tapi, dengan cerita yang berbeda
Tanpa ada sedikitpun kata
Tanpa ada sedikitpun canda
Tanpa ada sedikitpun tawa
Dan lihatlah,
Kali ini langit hitam tanpa ada bintang yang menemaninya
Seolah Mewakili kita yang tak lagi bersama
Aku rindu.
Rindu sekali
Saat berada disitu rasanya sama saja seperti mengundang masa lalu menghantui pikiranku
Aku rindu.

Aku, si Batu Karang-mu

Kamu tau batu karang?
Lihatlah..
Betapa kuatnya dia
Sekeras apapun ombak menghantamnya dia akan tetap diam ditempat yang sama
Bahkan dia akan senantiasa menunggu ombak datang lagi
Aku ?
Ya,
Aku sama seperti si batu karang itu
Kamu selalu bertingkah seperti si ombak
Kamu selalu menghantamku dengan dinginnya sikapmu
Namun,
Aku senantiasa menunggumu
Tanpa peduli rasa sakit yang terus menerus datang kepadaku
Percayalah,
Ini tak mudah
Aku seperti terlempar ke Dunia asing
Dunia yang penuh rasa sakit dan rasa kecewa
dan disitu aku sama sekali tak menemukanmu
Sungguh,
Kamu tak tau rasanya
Kamu bahkan tak pernah memaksaku untuk memasuki badai dan petirmu
Kamu mempersilakanku untuk masuk ke dalam pelangimu
Pelangi kita
Yang ternyata,
Semu...
Aku lelah
Namun hati memaksa untuk bertahan
Tenanglah,
Aku masih kuat
Bahkan sangat kuat
sama seperti si batu karang yang rapuh itu
Namun kamu harus tau,
Apabila ombak terus menerus menghantam si batu karang
Seiring berjalannya waktu batu karang akan semakin rapuh
dan akhirnya,
Hancur..




Dariku,
Si 'batu karang'-mu

Lets Travel^^












Jadilah seorang muslimah yang mampu menjelajahi dunia.
Because,Hijab is not an obstacle to doing.
keep syar'i
and Lets Travel^^






-Nmz

Kenangan

Pernah di suatu senja,
Kita bertukar cerita tentang apa yang ada
Berbagi kisah,bercanda dalam waktu
Kutemani senjamu dalam segelak tawa

Saat malam masih belum beranjak sepenuhnya
Kita terbangun,lalu beranjak
Meninggalkan kenyamanan dalam tenda
Mengejar senandung dari mentari pagi

Kau temani langkahku berjalan
semangati diriku ketika langkah kaki mulai merapuh
Dingin yang datang menyergap,
Coba kita tawar dengan saling mendekap erat

Aku teringat,
Perjalanan mempertemukan kita di satu jalurnya
Mempererat dalam waktu,mendekapkan dalam rindu
Berawal dari sekedar ucapan,hingga akhirnya menemukan kenyamanan

Senyum selalu mengembang,
Saat langkah kita telah menemui tujuan
Meski angin puncak saat itu,sedang tak ramah
Senyummu tetap merekah tentramkan geliah

"Terimakasih,telah mengantarkanku ke titik ini"
Ucapku pelan

Dan,
ketika esok kita tak bersama lagi
Setidaknya aku tau,
kita pernah punya sesuatu yang berarti untuk digenggam


'Kenangan'

Makhluk Asing

Awalnya kita hanyalah makhluk asing
Yang masih mencoba mengenal satu sama lain
Sampai akhirnya semua berubah ketika kita mengenal satu kata
"Kenyamanan"
Saat mengenal mu aku tidak memikirkan apa-apa
Yang aku tau,aku yakin kamu bisa membuatku tersenyum sepanjang hari
Dan ternyata itu memang benar terjadi
Rasanya,kita adalah dua orang yang paling bahagia waktu itu
Tapi,
Semuanya berbalik gitu aja
Bahkan untuk memalingkan wajahmu kepadaku saja rasanya sudah tidak mungkin
Kita kembali menjadi makhluk asing yang tak tau bagaimana caranya mengembalikan rasa nyaman itu
Rasa sakit itu membucah didadaku
Terlalu banyak rasa yang tersisa
Kau adalah bait pilihan kata yang kurangkai berima,sedangkan kita tidak bisa menjadi satu sajak yang utuh
5bulan yang buruk,bagaikan neraka
5bulan ini kuhabiskan hanya untuk memperhatikanmu bersama perempuan lain
Aku hanya ingin menjadi awan putih dibawah sinar matahari. Yang meski tak kau minta,diam-diam melindungimu dari terik matahari.
Jika kau mendengar kabar aku telah jatuh cinta lagi,percayalah untuk melaluinya,aku harus melalui puluhan malam berharap kau kembali dan puluhan kali kecewa karena ternyata kau tak kunjung datang
selamat kehilangan cinta yang paling besar

Terlalu cepat (ReMake DwitasariDwita)

Untuk Batu Karangku, si kuat yang berhasil menghancurkan pertahananku.

Sehabis hujan sore ini, aku kembali membaca ulang percakapan kita, saat aku dan kamu masih menjadi dua manusia yang bisa dibilang punya kecocokan juga kesamaan. Aku tertawa walaupun diam-diam hatiku teriris mengingat bahwa hal-hal manis ini tak mungkin terjadi lagi. Tak mungkin lagi aku berharap bahwa kamu akan berubah jadi pria yang dulu begitu kukenal, yang kehadiran selalu sulit kuduga, dan yang diam-diam memperhatikanku dari kelasmu yang memang tak terlalu jauh dari kelasku.
 Aku masih mengingat mata sipitmu yang indah dibalut kacamata entah minus berapa, bibir tipis melengkung sempurna yang aku biarkan terus berkata meskipun kadang aku tak memahami pikiranmu yang terlalu bebas. Aku masih ingat betapa suara lembut merasuk masuk ke telingaku. dan banyak hal lain yang jika semakin kuingat, semakin membuat dadaku sakit. Aku tak sadar mengapa perkenalan yang tidak sengaja ini sukses membuatku berharap terlalu jauh pada sosok terlalu sempurna sepertimu.
Bagiku kesempurnaanmu adalah beban sangat berat untuk gadis seusiaku. Aku hanya perempuan biasa, prestasiku tak seberapa, hobiku hanya menulis dan bermimpi, hanya itu yang bisa aku lakukan. Kamu? Dan, kamu? Kamu adalah pria luar biasa, yang diceritakan begitu sempurna dalam film dan rangkaian peristiwa drama, kamu menari, bergerak, berjalan dengan anggun; sementara aku hanya gadis lugu yang hanya berani menatapmu dari jauh dan berharap bahwa pertemuan pertama kita adalah mimpi yang akan terus berlanjut. Aku berharap tidak pernah bangun, berharap tak ada orang yang menyadarkanku bahwa mendekatimu adalah sebuah khayalan yang terlalu tinggi.
Dan, ternyata kamu memang tak sejauh matahari, kamu bukanlah sebuah ilusi. Aku semakin jatuh cinta padamu. Aku tak pernah paham apa yang membuatmu kini menjauh, aku tak tahu mengapa kaulebih percaya cerita mereka daripada pengakuanku. Aku tak tahu mengapa hubungan yang awalnya kukira hanya main-main ini ternyata menimbulkan luka yang luar biasa dalam bagiku.
Terlalu cepat jika semua harus berakhir. Terlalu cepat jika aku harus kembali bersedih karena kehilangan kamu. Aku sedang di puncak sayang-sayangnya sama kamu, sementara kamu mendorongku dari atas sana, membiarkanku terjerambab, terjatuh sendirian, dan kamu tertawa seakan tidak melakukan kesalahan. Ini terlalu cepat, Batu Karangku. Perempuan yang selalu kamu sebut dengan Laut ini masih ingin memperjuangkan dan menunggumu. Mulngkin, ini tidak akan pernah adil untukku, namun apa yang bisa aku tuntut? Kita tak punya status apapun, menangispun rasanya tak akan membuat kita kembali seperti dulu.
Aku tidak membencimu. Aku cuma benci hari-hari tanpamu. Aku tidak akan pernah menyesal pernah mengenalmu. Aku hanya menyesal mengapa dulu saat kau tawarkan perkenalan, aku terlalu cepat untuk mengulurkan tangan?

   Dari Lautmu, yang tenang, diam,
tapi selalu mendoakanmu.