Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Sastra dan Senja #CerpenReceh

"Gue lolos,Ra. Satu minggu lagi lo harus temenin gue kesini. Karena minggu depan adalah penentuan siapa yang akan terpilih sebagai pemenang" Teriaknya, ia terlihat amat girang
"Serius Ky? Ah, gak sia-sia gue ngajarin lo" Balasku, ia terkadang memang selalu seperti itu --seperti anak kecil. Ia terkesan cuek pada semua orang yang baru ia kenal, sikapnya yang aneh dan terkadang menyebalkan hanya ia tunjukkan kepada orang-orang tertentu. Aku, salah satunya.
Langit pasundan semakin gelap. Aku sudah duduk ditempat ini selama satu jam, tempat yang selalu dipenuhi oleh para penulis hebat. Bahkan sekarang disini dijadikan sebagai tempat audisi pemilihan penulis berbakat. Dia sangat bersemangat sekali untuk mengikuti ajang ini, bulu matanya yang lentik selalu membuatku gemas apabila ia menunjukkan sikap sok manisnya.
Aku berjanji padanya, dan juga pada diriku sendiri. Aku akan mengajarkan ia sampai ia jadi pemenang di kompetensi ini.
"Zara.. Ayo pulang. Lo capek nungguin gue kan? Ayo deh gue beliin eskrim" Ia sedikit membuyarkan lamunanku.
Ia memang selalu mengerti perihal semua dalam diriku. Aku mengenalnya sejak kami duduk dibangku sekolah dasar. Kami bersahabat sejak dulu, dia selalu membela dan melindungiku. Sejak dulu ia tak pernah dekat dengan wanita lain, sejujurnya ia memang tampan. Postur tubuhnya yang menjulang tinggi dengan mata minim dan bulu mata yang lentik juga gayanya yang memang membuat semua wanita yang melihatnya pasti akan langsung jatuh cinta. Namun, ia terkesan cuek dan dingin pada siapapun --kecuali kepadaku.
"Zara, turun. Udah nyampe" Ucapnya, aku turun dari motor birunya.
"Pulang sana" Ucapku sembari menahan kantuk karena rasa lelah yang menjalar dalam diriku.
Akupun menutup pintu rumahku bersamaan dengan menjauhnya suara motor Rizky.
                        ****
"Assalamualaikum. Halo Ra. Ra lo udah bangun belum? Udah dong. Kalo Sholat,Udah belum? Ya udah dong pasti. Mandi sih udah belum? Pasti belum kan?" terdengar suara seseorang diseberang sana.
"Waalaikumsalam Ky. Apaan sih lo Ky. Ini masih pagi bawel amat lo. Ada apa?" Jawabku dengan nada yang sedikit malas
"Gue udah ada tema puisi nih buat babak final nanti. Lo bantuin gue ya. Mau kan? Pasti mau. Gue nanti ke rumah lu abis dzuhur. Assalamualaikum"
"Waalaikum...." Belum sempat kujawab, Ia sudah menutup teleponnya.
"Gak sopan" Ucapku berdecih.
 ****
Smartphone-Ku berbunyi. Aku mengusap layar smartphone-ku, terlihat potret siluetku dan Rizky yang kujadikan wallpaper smartphoneku.
'Ra,gue didepan. Cepetan, panas'
Setelah membaca chat dari Rizky, aku berlari menuju halaman rumahku.
"Ky..." Teriakku mengejutkan dirinya yang tengah berkaca di spion motor birunya
"Mau kemana? Gak dirumah gue aja?" Lanjutku
"Lo mau sambil nungguin senja gak?" Tanyanya sembari memberikan helm kepadaku
"Ke Cafe D'Pakar?" Ucapku
"Nah tuh lo tau. Udah cepetan keburu sore" Jawabnya menarik tanganku
Aku selalu menghabiskan waktu bersamanya di salah satu tempat yang memang cukup populer di daerahku, Cafe D'Pakar. Aku selalu menunggu langit pasundan mengeluarkan sinar jingga yang biasa disebut 'Senja' . Rizky tak pernah mengeluh karena harus menemaniku menunggu senja di tempat ini --bahkan hampir setiap hari. Ia tak pernah menyukai senja,ia tak pernah menyukai dunia sastra,ia juga tak pernah menyukai eskrim. Namun, entah mengapa karena aku terus menerus meminta ia menemaniku dalam semua rutinitasku ia malah menyukai semua yang aku sukai dan ia tak keberatan atas itu semua. Ia adalah pria yang teramat sabar. Aku yang terkadang egois tak membuatnya marah kepadaku. Bahkan jika harus ku hitung Ia hanya pernah marah sebanyak 5 kali kepadaku selama aku mengenalnya.
"Zara. Lo kenapa selalu betah di motor gue? " Ucapnya sambil membuka helm ku
Aku tak memedulikan omongannya. Aku bergegas masuk ke dalam Cafe dan segera mencari tempat duduk.
"Yang sopan jadi orang tuh. Gue lagi ngomong juga" Ucapnya, ia menaruh tas nya diatas meja dan dengan sigapnya menjitak kepalaku yang dilapisi hijab
"Jadi, gimana?" Tanyaku
"Apanya?"
"Ah elah. Katanya lo punya tema buat babak final nanti. Gimana sih lo ah, udah 4 hari lagi nih" Ucapku
"Gini ra, gue mau temanya tentang senja. Gue udah nulis sih sebagian. Lo baca deh, gue kurang sreg aja sama opening nya. Bisa lo benerin?" Ujarnya
"Sini mana laptop lu" Jawabku
"Lo harusnya bikin opening yang bisa bikin orang-orang penasaran sama isi cerita karya fiksi lo,Ky" Lanjutku
Selama 4 Jam, aku dan Rizky mencoba membenahi karya sastra milik Rizky. Ia memang berkembang sangat cepat, dulu ia hanya bisa menggunakan diksi dan majas sederhana. Namun sekarang bahkan mungkin kemampuannya melampauiku. Karena di setiap karyanya ia selalu membuat diksi dan majas yang sulit dimengerti namun memiliki arti yang teramat dalam.
"Akhirnya selesai. Makasih ya Zara, lo selalu bantuin gue"
"Ah gak masalah Ky"
"Zara...." Panggilan lembutnya membuatku menoleh menatap dirinya
"Apaan?" Jawabku cuek
"Lo tau gak? Setiap kali liat senja gue selalu inget lo. Mungkin, kalau pada akhirnya kita bakal jauh. Gue bakal tetep ngerasa deket sama lo saat gue liat senja. Gue sayang banget sama lo Ra"
Deg...
Ada perasaan berbeda dalam diriku saat Rizky berkata demikian. Aku menyadari itu, aku mencintainya --lebih dari sekedar sahabat.
Aku hanya tersenyum mendengarnya.
Langit pasundan kini dipenuhi dengan sinar berwarna jingga, sinar yang selalu menghangatkan jiwa. Beberapa orang berkata mereka membenci senja, senja adalah pemisah, senja adalah arti dari perpisahan. Jika fajar datang untuk menjemput sang mentari sebagai pertanda dimulainya kehidupan, sedangkan senja datang untuk mengajak sang mentari terbenam sebagai pertanda datangnya gelap dan sunyi. Namun nyatanya, senja mengajarkan kita bahwa perpisahan tak selamanya menyisakan pilu. Senja mengajarkan kita agar kita senantiasa tegar dan hangat walaupun sebenarnya kita adalah seorang yang rapuh dan perasa.
Aku mencintai senja, begitupun Rizky.
Aku mencintai sastra, begitupun Rizky.
Bagiku dan dia sastra itu berwarna, begitupun senja.
***
Hari ini tiba.
Rizky memang terlihat gugup, namun aku jauh lebih gugup. Mulutku tak henti berdoa untuknya.
"Ra. Do'ain gue ya" Ucapnya menepuk bahuku
"Gue mau nunjukin sesuatu ke lo. Tapi nanti. Tunggu ya" Lanjutnya, ia bergegas menuju ruangan dengan pintu bercat coklat.
Aku tak menjawab sepatah katapun, aku hanya menjawab dengan anggukan.
2 Jam diriku dipenuhi rasa takut dan gugup. Akhirnya Rizky keluar dari ruangan tadi.
"Gimana Ky?" Tanyaku panik
"Alhamdulillah lancar. Udah napa jangan panik" Ucapnya menyentuh ubun-ubun kepalaku.

"Untuk peserta dan penonton diharap berkumpul di auditorium B karena acara hiburan dan pengumuman akan segera dilaksanakan" Ucap suara di speaker yang diletakkan ditiap sudut gedung ini

Aku dan Rizky bergegas menuju auditorium. Namun, aku tak melihat sosoknya saat itu, ia tiba-tiba menghilang dari pandanganku.
Aku duduk dibangku ketiga paling depan, tepat hanya terhalang 2 bangku disebelah kanan ku ada seorang wanita berbaju hijau yang tak pernah melepaskan senyumannya, ia cantik namun sayang ia tak berhijab. Mataku bertemu dengan matanya, akhirnya kami saling melemparkan senyuman.
Memang sudah biasa, dalam sebuah ajang kompetisi, Sebelum pengumuman pemenang selalu ada acara hiburan yang menurutku terkadang sangat membosankan. Terlebih hari ini, aku sudah tak kuasa menahan rasa gugup yang kualami sejak pagi.
Akhirnya, 30 menit berlalu. Kini saatnya akan diumumkan siapa pemenangnya.

"Baiklah. Ini adalah saatnya" Ucap seorang MC tampan berkemeja putih "Selamat kepada........"

Deg...

"Rizky bara pasaribu. Sebagai pemenang penulis terbaik"

Dengan gagahnya Rizky berjalan ke atas panggung, ia terlihat sangat tampan.
Wanita yang berbaju hijau tadi terlihat sangat mengagumi Rizky. Tak heran, Rizky memang menyimpan sejuta karisma dalam dirinya.

"Alhamdullilah, terimakasih semuanya. Terimakasih kepada semua pihak yang sudi membantu saya dalam menyelesaikan semua karya saya" Ucapnya sembari menghela napas "Dan juga saya berterimakasih kepada seseorang yang bersedia menemani saya dengan sabar, seseorang yang teramat berarti" Lanjutnya
"Siapa mas orangnya? Boleh diajak naik ke atas panggung aja mas" Ucap MC wanita yang bergaun abu
"Dia adalah...."
Senyumku mengembang
"Via"
Wanita berbaju hijau tadi berdiri dan bergegas menuju ke atas panggung. Aku terngaga seakan tak percaya.
Apa maksudnya? Via? Siapa dia? Bahkan Rizky tak pernah menceritakan tentang perempuan itu.
Aku berlari keluar dari ruangan auditorium, aku menangis sejadi-jadinya.

"Zara..." Ucap seseorang yang suaranya tak asing
"Rizky" Ucapku tersenyum "Selamat ya. Gue bangga sama lo"
"Makasih Ra. Oiya kenalin, Via. Dia pacar gue. Lo inget kan gue pernah janji bakal nunjukin sesuatu ke lo. Nih dia, gue mau ngasih suprise ke lo" Ujarnya, Ia terlihat sangat bahagia
Aku hanya membalasnya dengan senyuman.
Rizky memelukku,sedangkan tangannya masih menggenggam Via. Aku tetap tersenyum, miris.

Ah, lelaki itu. Lelaki berbulu mata lentik yang selalu mengendarai motor birunya kemanapun ia pergi. Setelah 12 Tahun aku bersamanya, akhirnya ia memutuskan untuk melabuhkan perasaannya pada wanita lain. Namun aku tetap mencintainya. Miris bukan?
Aku memendam perasaan naif ini selama 6 Tahun. Dan lagi, aku memainkan skenario yang jauh dari ekspetasiku.
Rizky pergi bersama Via bersamaan dengan tenggelamnya senja dilangit pasundan.

Kamu,
Senantiasa menjadi nama dalam setiap bait sajakku.
Sedangkan kita,
Tak akan pernah bisa menjadi satu sajak yang utuh.

Terimakasih untuk 12 tahun yang teramat berharga.


-Nmz-
3 Maret 2018

Kamu dan senja (2)

Senja menjelang malam. Di punggung bukit ini mentari bersandar. Bias cahayanya lembut mewarnai langit barat. Sadar atau tidak sadar bias cahaya itu telah mengubah wajah bukit sandaran matahari ini jadi sebuah fenomena: tentang perubahan sebuah lukisan realis yang tanpa ada satu garis pun melenceng, menjadi sebuah siluet bukit dengan jejeran nyiur berlatar langit senja kemerah-merahan. Indah. Senja, Aku suka senja hangat dan menenangkan.

Umi membuyarkan lamunanku, ia memanggil namaku. Dengan langkah tergesa-gesa aku berlari menuju umi. Kami bergegas agar tak kesiangan.
Hari ini, Aku akan menjalani kehidupan baru di kampusku yang baru. Umi-ku memang selalu berpindah-pindah tempat kerja, pada akhirnya aku harus mengikuti umiku. Aku memang anak tunggal, tanpa adik dan tanpa kakak. Umi pun adalah tulang punggung keluarga. Abi ku meninggal ketika aku masih smp, itu menyebabkan umi harus bekerja dengan ekstra.
Mobilku  melaju membelah jalanan di Kota Bandung. Gedung-gedung pencakar langit tertata sangat rapi, kota Bandung yang memang tak seasri dulu namun tetap indah. Sesaat kemudian aku sampai di Kampus baruku. Aku berjalan menyusuri koridor kampus.

*Brakkk*

"Awww" Rintihku
"Eh maaf-maaf. Lo gapapa? " Ucap seorang pria berambut pirang itu
"Gapapa apanya, sakit kali" Omelku
"Iya-iya maaf sih. Udah ya gue buru-buru nih" Ucapnya dengan wajah tanpa dosa
Akupun segera mengambil tasku yang terjatuh.
"Sialan... "
"Heyy... Lo, iya lo" Teriaknya, reflek akupun menoleh ke arahnya
"Gue? " Ucapku
"Iyaa lo" Jawabnya sembari berjalan mendekatiku
"Nama lo siapa? " Lanjutnya
"Gue Zara annisa. Lo? "
"Gue Dinda ainun. Salam kenal ya ra"
"Hmm,  Juga din"
"Eh btw, lo pindahan ya? Dari mana? " Tanya nya
"Gue dari Jakarta Din" Jawabku
"Lo kan belum tau nih Kampus ini, Lo juga belum tau daerah sini. Kalo mau kemana-mana hubungi gue aja ya"
"Oke Din."
Singkat cerita, karena aku sudah tidak ada mata pelajaran akupun memutuskan untuk pulang.
Naluri wanita akupun muncul, Aku berkaca di salah satu di spion motor berwarna merah.
"Heh, ngapain lo" Teriak seseorang dengan suara yang tak asing. Akupun menoleh ke arah asal suara
"Eh lo yang tadi nabrak gue ya, mau ngapain lo? Minta maaf? Udah gue maafin" Ucapku dengan senyum licik
"Eh curut, lo ngapain ngaca di motor gue"
"Oh, motor lo? Yaudahsih gue kan cuman numpang. Pelit amat lo. Gue punya nama gausah manggil curut kali"
"Numpang? Lo kira motor gue motor apaan"
"Yaudah deh maaf. Gue mau pulang, Bhay" Ucapku sembari meninggalkan pria berambut pirang dan bertubuh tinggi itu
"Sialan lo curut"
Akupun berlari menuju ke arah gerbang utama. Tiba-tiba smartphone-ku berbunyi
Muncul nama "Umi" dilayar smartphone-ku
"Assalamualaikum. Zara? " Ucap suara diseberang sana
"Waalaikumsalam. Kenapa mi? "
"Umi gabisa jemput kamu. Kamu pulang sendiri ya. Maafin umi. Bhay sayang"
"Lah dimatiin" Ucapku
Dengan terpaksa, akupun mencari angkot.
"Heh curut" Teriak si pria berambut pirang
"Ape lo? "
"Katanya mau pulang. Bohong mulu lo"
"Umi gue gajemput"
"Mau gue anterin? "
"Hah? Anterin? Lo pasti mau nyulik gue kan? Terus nanti lo mutilasi gue ? " Ucapku
"Apaan sih lo ah, kebanyakan makan micin ya. Udah ayo" Ucapnya menarik tanganku
"Gausah pegang-pegang" Ucapku sembari naik ke motor si pria berambut pirang itu
Motor si pria itupun melaju kencang
"Rumah gue di jalan... " Belum sempat kulanjutkan ucapanku, ia memotong pembicaraanku
"Lo harus anter gue dulu" Ucapnya
"Hah? Kemana? Ini udah sore gila lo. Tuhkan bener lo mau nyulik gue, jangan dong gue belum kawin" Ucapku panik
Ia tak menjawab, namun mempercepat laju motornya.
Setelah beberapa menit, iapun menghentikan motornya ditempat yang sangat asing, namun indah.
"Ikut gue" Ucapnya menarik tanganku
"Jangan pegang-pegang" Ucapku melepaskan genggamannya
Kitapun berjalan menyusuri hutan-hutan yang tak terlalu banyak ditumbuhi pepohonan
"Gila lo. Mau kemana kita? " Tanyaku
Ia tak menjawab
"Nah. Sampai" Ucapnya
"Wahh keren... " Ucapku takjub melihat pemandangan Kota Bandung dari atas sini
"Tiap sore, Gue suka nunggu senja datang disini. Gue suka senja" Ucapnya lembut
"Lo suka senja? " Tanyaku
"Sangat suka"
"Gue juga... Akhirnya.... "
"Kenapa lo? " Tanyanya
"Rasanya susah nemuin orang yang suka senja" Jawabku
"Lo suka senja juga curut? "
"Gue punya nama! " Ucapku
"Oh oke. Siapa nama lo? "
"Gue Zara."
"Gue Aditya. Panggil aja Adit"
"Gue gananya" Ucapku sinis
"Gue ngasih tau"
"Gue gamau tau"
"Terserah" Ucapnya memalingkan muka
Hari mulai gelap, senja datang bersama sore yang hangat. Indah sekali. Rasanya tenang dan damai saat bisa melihat senja sedekat ini
"Aku pernah memimpikannya, tapi melihatnya sedekat ini selalu memberikan kebahagiaan tersendiri" Ucapku pelan.
"Gausah aku-akuan, geli gue dengernya" Ucapnya menyentuh pelan ubun-ubun kepalaku yang dilapisi hijab.
"Pulang yu... Senja nya udahan"
"Ayo" Ucapnya beranjak meninggalkan tempat itu
Rasanya menyenangkan sekali.
"Udah nih nyampe. Turun kali, nyaman banget lo" Ucapnya
"Oh udah nyampe. Ayo masuk dulu" Ucapku
"Boleh"
"Mii.. " Teriakku dari depan pintu
"Ara.. Kamu baru pulang? Umi khawatir nak" Ucapnya berlari kearahku
"Zara dianterin Adit mi. Nih kenalin"
"Tante.. " Ucapnya tersenyum
"Oh iya, makasih ya nak. Ayo masuk dulu" Ucap umi mempersilahkan
"Gausah tante, Adit langsung pulang aja"
"Oh yaudah hati-hati ya nak"
"Hati-hati Dit" Ucapku melambaikan tangan
"Ayo masuk nak"
Akupun menutup pintu bersamaan dengan menjauhnya suara motor Adit.
                                    ****
"Ara... " Teriak seseorang dari ujung Koridor
"Apa Dit? Lo kemarin sampe rumah malem ya?" Ucapku
"Ya lumayan lah. Oiya, gue minta nomor lo dong"
"Buat apa? Lo mau neror gue ya? "
"Hushh ah dosa suudzan mulu"
"Becanda kok. Nih" Ucapku menyerahkan Smartphone-ku
"Okey. Anterin gue ke perpus yuk" Ajaknya
"Ayo"
Akupun berjalan seiringan dengan Adit. Sepanjang jalan, Orang-orang disekeliling melihat kearahku
"Kenapa sih Dit? "
"Nggak kok. Udah gausah diliatin balik"
"Zaraaaa..... " Ujar Dinda berteriak
"Eh Dinda. Kenapa Din? " Ucapku
"Ra bentar gue mau ngomong. Eh Adit, Sebentar ya" Ucapnya menarik tanganku
"Bentar Dit" Ucapku
Adit hanya mengangguk pelan
"Apa Din? "
"Zara. Lo kok bisa sama Adit? "
"Lah masalahnya dimana? "
"Diatuh the most popular boys dikampus kita ra" Ucapnya
"Oh ya? Terus? "
"Lo hati-hati deh, apalagi sama si Riany. Diatuh suka banget sama Adit. Dia bakal ngelukain orang-orang yang coba ngerebut Adit dari dia" Jelasnya
"Hmmm Okey" Ucapku singkat
"Hati-hati lo. Kalo ada apa-apa bilang ke gue" Ujar Dinda meninggalkanku
"Ada apa Ra? " Tanya Adit
"Engga Dit. Ayo"
                                     ****
1 Minggu berlalu, selama 1 Minggu pun aku mempunyai rutinitas baru ; Menikmati senja bersama Adit.
Rasanya nyaman, perasaanku yang awalnya biasa saja seiring berjalannya waktu perasaanku berubah karena perhatian-perhatian kecil darinya.
Aku memang mempunyai trauma berat dalam hal asmara. Sehingga sulit rasanya membuka hati untuk orang baru. Adit adalah orang yang berbeda.
Dia dan senja
Keduanya adalah kebahagiaan terbesarku

"Heh..  Lo" Ucap seseorang yang sama sekali tak kukenal
"Gue?" Ucapku menunjuk diriku sendiri
"Iya lo. Zara kan? Gue Riany" Ujarnya memperkenalkan diri tanpa diminta
"Oh, Ada urusan apa? " Tanyaku cuek
"Lo ada hubungan apa sama Adit? " Ucapnya mencengkram bahuku
"Sakit. Lepasin. Gue gaada apa-apa sama Adit. Dia cuma temen gue. Salah? " Ucapku, menepis lengannya
"Dasar pendusta! Gue tau lo sering jalan sama Adit, semua orang tau lo selalu bareng Adit. Lo jauhin Adit! Dia milik gue! Camkan! " Ucapnya mendorong tubuhku
"Denger ya Riany, Adit bukan milik lo. Dia milik dirinya sendiri." Ucapku beranjak pergi meninggalkan ia

"Ara... "
"Apa dit? "
"Riany ngapain lo? Lo tadi disamperin Riany kan? " Tanyanya dengan nada khawatir
"Gapapa dit, udahlah"
"Yaudah ayo pulang"
"Kita gak ke bukit dit? "
"Iya maksud gue ke bukit, abis itu pulang"
"Oke"
Seperti sore-sore biasanya aku dan Adit pergi ke bukit untuk menikmati senja.
Momen yang selalu kutunggu, menikmati senja bersamanya.
"Ra... Kenapa lo suka senja? "
"Gue rasa kebahagiaan gue ada disana. Lo kenapa dit? "
"Senja itu kuat dan selalu menghangatkan, padahal kenyataannya ia rapuh dan perasa" Ucapnya pelan
"Oh ya? "
"Iya ra.. Lo harus kayak senja ya"
Aku hanya membalas dengan senyuman yang dibalas dengan elusan lembut tangan Adit di ubun-ubun kepalaku.
                                     ****
Sejak pagi, aku tak melihat Dinda. Akhirnya akupun berjalan sendirian menyusuri koridor.
Tiba-tiba ada yang mencengkram tanganku dan menarikku ke toilet wanita
"Riany? Mau apa lo? " Ucapku terkejut
"Denger ya. Gue udah peringatin lo buat jauhin Adit. Kenapa lo tetep deketin dia? "
"Riany, Itu hak gue. Lo gapunya hak apapun buat ngelarang gue. Lo bukan siapa-siapa"
*Plakk*
Riany menampar pipiku dengan keras sehingga pipiku memerah
"Apaan sih lo" Ucapku dengan nada naik satu oktaf
"Gue akan lukain siapapun yang nyoba rebut Adit dari gue! " Ucapnya sembari mengeluarkan silet dari tasnya.
"Mau apa lo? " Ucapku menjauh darinya.  Ia hanya membalas dengan senyuman licik dan akhirnya ia menyayat lengan kananku dengan silet yang tadi ia keluarkan
"Jauhin Adit! " Ucapnya bergegas pergi meninggalkanku
Darah bercucuran deras dan jatuh ke lantai toilet, dengan sigap aku mengambil tisu dari tasku dan berlari menuju UKS
"Araa... Lo kenapa? " Teriak Adit
"Gapapa..." Ucapku
Dengan sigap Adit menuntunku menuju UKS.
Sesampainya di UKS, Adit mencari betadine dan perban
"Ra lo kenapa? Lo diapa-apain sama Riany ya? "
Aku hanya mengangguk lemas
"Gue gak bisa biarin dia gini terus"
"Udah dit udah. Gue gapapa"
"Lo gila ya? Tangan lo berdarah, Pipi lo merah. Lo masih bilang gapapa? Dasar cewek" Ucapnya menggelengkan kepala
"Apasih lo ah" Ucapku tertawa sembari memukul lengannya
"Nah gitu dong. Lo kan harus kuat kayak senja"
"Terserah lo deh dit" Ucapku sambil mengacak-ngacak rambutnya

*Adit POV*
Entah rasa apa ini. Tapi, gue rasa gue nyaman. Ara, akhir-akhir ini selalu jadi alasan gue bahagia.
"Bundaa... Adit pulang"
"Hei.. Sini sayang bunda mau ngomong"
"Iya bun. Kenapa? "
"Riany cerita kamu lagi deket sama cewek ya? Bunda mohon jangan deketin cewek selain Riany. Keinginan bunda adalah perintah untuk kamu" Ucap bunda
"Terserah bun. Aku udah besar, udah bisa memilih mana yang benar dan salah. Tolong hargai pilihanku"
Itulah bunda. Ia tak tau sepicik apa Riany. Dulu, aku memang sempat berhubungan dengannya namun ia memang tak sebaik yang kukira. Ia selalu memaksaku untuk mengikuti perintahnya. Aku muak.
Zara. Hanyalah Zara pilihanku.

*Zara POV*

*Drrttt*
Handphone-ku berbunyi. Nama Adit muncul dilayar handphone-ku
"Assalamualaikum. Kenapa dit? "
"Waalaikumsalam. Besok gue jemput ya"
"Lah ngapain lu? "
"Gamau liat senja lu? Yaudah"
"Lah gue lupa. Yaudah jemput ya, jangan ketauan Riany nanti gue dijahatin lagi hahah"
"Iya Zara. Selamat malam"
"Selamat malam, dit"
                                     ****
"Zaraa. Ada Adit"
"Iya umi"
Salah satu kebiasaan Adit adalah 'ngaret'
"Lama amat sih dit yaelah" Ucapku
"Iya maaf. Ayo berangkat keburu sore dijalan"
"Umi, Ara sama Adit berangkat.  Assalamualaikum "
"Iya hati-hati ya" Ucap umi melambaikan tangan
"Zara pegangan" Ucap Adit
"Najis dah"
"Hush gak boleh berbicara seperti itu Ara"
"Iyee iyee"
Singkat cerita, kamipun sampai di bukit tempat kami melihat senja
"Ra.. Sambil nunggu senja gue mau ngomong"
"Apa? "
"Lo pernah gak sih ngerasain saat lo bangun tidur tiba-tiba selalu terlintas bayangan wajah seseorang. Apa itu artinya lo cinta sama orang itu? "
"Entahlah. Kenapa lo nanya gitu dah? "
"Gue sering ngalamin itu akhir-akhir ini"
"Siapa? "
"Gue lah"
"Maksud gue siapa ceweknya? "
"Kepo lo kayak dora"
"Serius dit"
Iapun terdiam sejenak
"Lo,Zara" Ucapnya menatapku
"Hah? Apaansih lo ah gak lucu"
"Ra. Gue serius"
Aku hanya membalas dengan meliriknya
"Dit" Ucapku pelan
"Kalo gue sayang lo gimana? " Lanjutku
"Ra."
"Kalo gue sayang lo juga gimana? " Ucapnya tersenyum
"Kalau kita memang ditakdirkan untuk bersama, pasti akan ada jalan dit"
Adit hanya tersenyum
Senja.
Sungguh ku berterimakasih kepada senja yang telah memberikan kehangatan dan kenyamanan seperti saat ku didekat Adit.
"Zara. Kalau suatu saat lo kangen sama gue dan posisi gue lagi jauh dari lo. Lo cukup liat senja, karena meskipun kita ada ditempat yang berbeda kita bakalan ngerasa deket karena ngeliatin sesuatu yang sama"
"Iya dit" Ucapku tersenyum
                                  *****
Saat itulah saat terakhir aku bertemu dengannya, semenjak itu ia tak pernah ada di kampus, ia tak pernah mengabariku.
2 Minggu berlalu. Bahkan aku tak tau bagaimana keadaan Adit sekarang.
Tiba-tiba lamunanku dibuyarkan oleh umi yang memanggilku dari bawah.
"Zara. Ada Dinda nih"
"Suruh kekamar aja mi"

*Tokk Tokk Tokk*

"Masuk din"
"Ra" ucapnya membuka pintu dengan wajah risau
"Sini duduk. Kenapa lo? "
"Ra"
"Kenapa sih din"
"Nih" Ia menyodorkan sebuah undangan pernikahan berwarna merah muda dengan pita ungu
"Baca" Ucapnya masih dengan wajah risau
Akupun melihat undangan itu, alangkah terkejutnya aku saat melihat nama
"Aditya & Riany"
Dihalaman depan undangan itu
"Adit? " Ucapku lemas. Air mata mengalir deras membasahi pipiku. Bahkan untuk mengeluarkan kata-katapun rasanya sangat sulit.
"Zara. Lo baik-baik aja kan? " Ucap Dinda
"Iya din"
"Acaranya besok ra, lo gausah datang ya"
"Gue pasti bakalan datang din"
"Lo kuat ra? "
"Adit selalu bilang gue harus jadi cewek sekuat dan sehangat senja. Mungkin maksud dia, gue mesti kuat bila pada akhirnya Adit bakalan pergi dari kehidupan gue" Ucapku lemas
"Oke. Lo harus selalu bareng gue ya" Ucapnya
"Iya din"
Malam itu,
Menjadi malam neraka bagiku
Adit menikah dengan Riany
Ironisnya, aku tetap mencintainya
Ironisnya, aku tetap mengharapkannya
Dia datang membawa sejuta kebahagiaan yang tak dapat kudeskripsikan
Ia memberiku banyak harap
Banyak harap yang ternyata--semu.

#Esoknya

Hari ini, hari indah bagi Adit dan Riany. Namun, hari buruk bagiku dan hatiku. Dengan langkah gontai aku menuju gerbang depan rumahku karena Dinda sudah menunggu cukup lama. Entah apa yang terjadi nanti, aku hanya bisa meyakinkan diriku bahwa aku akan baik-baik saja.
Perlahan, aku dan Dinda memasuki gedung tempat Adit dan Riany melangsungkan pernikahan.
Mataku dengan sigap mencari dimana keberadaan Adit.
Deg....
Mataku bertemu dengan mata Adit, ia terkejut begitupun aku. Aku hanya tersenyum pahit seolah berkata "Aku baik-baik saja" . Terlihat Riany memakai gaun ungu,begitu anggun. Sungguh, rasanya sangat menyakitkan. Aku tak kuat, aku berlari ke luar yang kemudian disusul oleh Dinda.
"Din kita pulang ya" Ucapku pelan
"Iya ra" Ucapnya
Mobil Dinda nih melaju meninggalkan gedung tempat Adit dan Riany melangsungkan perninkahan.
"Hmm.. Ra? Gue ada ini buat lo" Ucapnya menyerahkan sepucuk surat berwarna orange
"Dari siapa? " Ucapku
"Adit. Dia ngasihin ini 2 Minggu yang lalu. Dia bilang gue harus kasih ini ke lo saat dia lagi ngelangsungin pernikahan sama Riany"
"Oke" Balasku singkat. Aku membuka surat beramplop orange itu.

Hai,
Zara annisa
Si perempuan sekuat senja


Maafkan aku,
Aku mencintaimu
Namun, bundaku berkata lain
Aku tak bisa membantah perintah bundaku lagi
Kau, adalah perempuan yang sangat kucintai
Aku ingin kau bahagia bersama lelaki lain ra
Kamu jangan pernah lupa untuk selalu melihat senja
Kau tau apa yang paling menyakitkan?
Saat dua orang yang saling mencintai dipaksa untuk berpisah
Kumohon,
Kau harus bahagia
Berjanjilah
Kamu harus selalu ingat, jadilah seperti senja yang hangat dan kuat meskipun pada kenyataannya ia rapuh dan perasa.
Aku mencintaimu, Zara.


Adit



Air mata mengalir deras membasahi pipiku.
Adit pergi, meninggalkan sejuta kenangan
Aku mencintaimu, Adit.
Pun jika memang pada akhirnya kau tak bisa bersamaku
Aku akan tetap mencintaimu
Kau tau dit?
Bahkan ini lebih buruk dari sekedar 'patah hati'
Kisah ini seperti kisah perwayangan
Yang jalan ceritanya diatur oleh skenario
Kau dan dia adalah peran utama yang selalu muncul, berjalan dengan gagah
Sedangkan aku hanyalah peran figuran yang hanya muncul sesekali
Aku hanyalah peran figuran yang naif
Sejujurnya,
Ini bukan urusanmu denganku
Tapi ini urusanku dengan hatiku
Berbahagialah dit
Tetaplah menjadi sehangat senja

Aku mencintai senja
Aku mencintai Adit.
Adit dan senja
Keduanya adalah kebahagiaan terbesarku:)



-Tamat-

Gadis Kecil Penjelajah Dunia



Senja menjelang malam. Di punggung bukit ini mentari bersandar. Bias cahayanya lembut mewarnai langit barat. Sadar atau tidak sadar bias cahaya itu telah mengubah wajah bukit sandaran matahari ini jadi sebuah fenomena: tentang perubahan sebuah lukisan realis yang tanpa ada satu garis pun melenceng, menjadi sebuah siluet bukit dengan jejeran nyiur berlatar langit senja kemerah-merahan.Indah.
Aku selalu menyukai fenomena menawan ini.Aku selalu bermimpi berada di atas puncak gunung dan melihat berbagai macam fenomena yang lebih menawan. Mungkin,untuk sebagian orang mimpiku adalah mimpi konyol yang tak mungkin bisa dilakukan oleh gadis seusiaku. Tapi,bagiku m
impi itu ibarat gunung,mereka hanya diam dan tidak pernah pergi kemana-mana. Kita hanya perlu menentukan bagaimana cara kita mendapatkan mimpi itu.
Beberapa minggu yang lalu, dengan tekad yang bulat aku memutuskan pergi mendaki bersama seorang kawan karibku,Alvi. Ya! Kita pergi mendaki hanya berdua,dan kita berdua adalah dua orang gadis nekad yang percaya bahwa inilah cara kita mendapatkan mimpi kita. Karena mimpi kita berada diatas puncak gunung.
“Capek ya,kapan nyampe sih?” Ucap Alvi sambil mengusap dahinya yang dipenuhi banyak keringat.
Aku hanya menggelengkan kepala dan tersenyum melihat tingkah Alvi.
Singkat cerita, setelah beberapa jam kita berjalan akhirnya kita sampai di tempat yang selalu menjadi impian kita.Puncak.
Rasa lelah yang sejak tadi kurasakan,hilang begitu saja setelah aku melihat keindahan ciptaan-Nya. Dalam keagungan ciptaan Tuhan kita hanyalah sebagian kecil yang tak berharga. Untuk apa kita sombong?
Aku dan Alvi memutuskan untuk menginap satu malam dan mendirikan tenda.Langit saat malam itu begitu hitam sampai batasnya dengan bumi hilang. Akibatnya,bintangdan lampu kota bersatu, seolah-olah berada di satu bidang. Indah, kan?.
Terkadang ada saat dimana gelap malam seakan mampu mengerti kamu lebih dari yang lain. Bersama bintang. Bersama bulan. Bersama langit malam. Cukup dengan melihat alam, kamu merasakan kedamaian.
Keesokan harinya,Aku dan Alvi bergegas pulang kerumah.
“Semoga kita bisa bertemu lagi wahai kabut pagi,hutan dan puncak” Ucapku dalam hati.
Sesampainya dirumah, yang kuharapkan memang tak sesuai dengan kenyataannya.Lagi dan lagi, Ayahku memang tidak mengizinkan anak perempuannya ini mempunyai bahkan melakukan hobby nya yang menurut dia bahaya dan tidak ada manfaatnya.Tapi,bagiku itu bukanlah penghambat. Mengapa kita harus menyerah untuk sesuatu yang pantas kita perjuangkan?
Jujur saja, telingaku sudah panas dan bosan setiap kali aku pulang dari pendakianku, selalu saja tak ada penyambutan kepulanganku dengan setidaknya menanyakan ‘Apa kabar?’.Sebaliknya, selalu omelan yang kudapatkan.
Hobbyku ini memang mengundang banyak komentar negatif orang-orang, cacian bahkan makian.Alasan mereka karena katanya perempuan berhijab sepertiku tidak sepatutnya mempunyai hobby mendaki gunung bahkan tidak pantas mempunyai impian untuk menjelajah dunia.
Jangankan orang-orang diluaran sana. Orang-orang terdekat pun seakan tak percaya akan semua mimpiku itu, salah satunya Ayahku. Tapi apa salahnya? I do what I love, and I love what I do.

 *****
Hari ini,hari cantik dan tanggal cantik kesukaanku, Ya! Hari libur dan tanggal merah.Karena, di hari dan tanggal itu aku bisa melanjutkan pendakianku.
 “Yah,mau ngelanjutin pendakian boleh? Mumpung 3 hari libur” Ucapku hati-hati
“Udah berapa kali Ayah bilang?Hobby kamu yang gak ada gunanya itu gausah kamu lanjutin!” Jawab ayahku dengan nada sedikit meninggi.
“Tapi, Ayah gatau soal mendaki. Yang Ayah tau hanya hal negatif.Yah, Ga semua yang Ayah pikir buruk itu memang kenyataannya buruk.Jangan menilai sesuatu dari apa yang ayah dengar, tapi nilailah sesuatu dari apa yang Ayah Lihat” Ucapku
“Kamu adalah tanggung jawab Ayah.Kamu gak seharusnya melakukan sesuatu yang Ayah larang.Apa untungnya mendaki buat kamu? Sebegitu banyakkah manfaatnya sampai kamu menjadi keras kepala demi pendakian itu?”Ucap ayahku naik oktaf
 Aku hanya terdiam. Aku sudah tak tahan mendengar ocehan Ayahku.
“Nasihat ayah adalah kewajiban yang harus kamu turuti.Jangan  membantah!” Lanjut ayahku
“Yah,
Selama ini Ayah selalu bilang, sejak aku lahir ke dunia ini, aku sudah punya tugas &kewajiban yang harus aku jalani. Ibadah.Tapi enggak cuma shalat, belajar, sekolah.Senyum ke orang pun bisa jadi ibadah. Tapi semua ibadah-ibadah itu cuma bisa aku jalani dengan kesungguhan dari diri aku sendiri. Tapi disini aku yang mengatur hak aku untuk menentukan dimana & bagaimana aku menentukan kewajiban itu.Selama ini aku sudah melaksanakan kewajibanku. Lalu apa salahnya jika sekarang aku menggunakan hak aku,Untuk memilih apa yang aku suka."Ucapku dengan nada yang lebih rendah
 Ayahku terdiam beberapa saat
“Apa yang kamu inginkan?”Tanya Ayahku
“Aku hanya ingin menjadi seorang muslim yang mampu menjelajahi dunia. Dan yang perlu ayah tau, Pendakian dan perjalanan itu memberikan kesan dan cerita tersendiri buatku” Ucapku
“Lanjutkan perjalanan dan pendakianmu.Gunakanlah hakmu dengan baik. Ayah beri kamu kesempatan. Jangan sampai kecewakan Ayah.”Ucapnya dengan nada pelan
“Baik Yah,terimakasih” Ucapku,senang rasanya setelah selama ini menanti jawaban indah itu,akhirnya keluar dari mulut Ayahku
 Karena
Tuhan selalu memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan.
Keesokan harinya,akupun menyiapkan persiapan yang harus aku bawa. Rasanya ada yang beda, biasanya aku menyiapkan sendirian. Tapi, hari ini Ayah dan Ibuku membantuku menyiapkan kebutuhanku.Inilah yang aku inginkan sejak dulu.
Sore harinya,aku pun berangkat bersama Alvi. Destinasiku kali ini adalah gunung bongkok,gunung tertinggi di Purwakarta. Sekitar 3 jam perjalanan,jarak yang tidak terlalu jauh dari rumahku.
Sesampainya disana,seperti biasa aku dan alvi melakukan registrasi terlebih dahulu agar tidak masuk daftar hitam.
Perjalanan dari pos registrasi menuju pos 2 hanyalah 15menit.Dan, walaupun hanya di pos 2 tetapi kami sudah disuguhi pemandangan yang luar biasa indahnya. Karena malam sudah larut,aku dan alvi memutuskan untuk summit menuju puncak besok pagi.
Singkat cerita, kamipun sudah berada dipuncak.Perjalanan dari pos 2 menuju puncak sekitar 2-3 jam. Dan dipuncak kami bergabung bersama para pendaki lain. Bukan hanya untuk menikmati keindahan,tapi salah satu tujuan mendaki adalah mendapatkan keluarga baru. Saat kita berjuang bersama-sama meraih puncak.Terkadang kebersamaan yang kita lalui jauh lebih berarti daripada puncak yang telah kita capai. Apalagi yang lebih romantis dari berkumpulnya orang-orang dengan semangat yang sama dalam satu lingkaran?.
Perjalanan  adalah belajar melihat dunia luar,juga belajar untuk melihat kedalam diri. Pulang memang adalah jalan yang harus dijalani semua pejalan. Dari titik nol kita berangkat,kepada titik nol kita kembali.

*****
*1 Bulan Kemudian*
Rasanya aku rindu pendakian.Sudah lebih dari satu bulan aku tidak mendaki.Hai gunung. Hai Puncak. Hai hutan rimba.Hai tanjakan curam.Aku rindu.
1Bulan ini aku hanya fokus memikirkan tugas-tugas sekolah yang menumpuk.Karena bagaimanapun sekolah jauh lebih penting. Tapi, bukan berarti aku akan berhenti untuk melanjutkan perjalananku sebagai Hijab Traveler’s.

Hari demi hari,hanya satu hal yang kunanti. Tanggal merah.

         Akhirnya, tanggal merah itupun datang. Destinasiku selanjutnya adalah Gunung Guntur,yang terletak di Garut. Yang menurut orang-orang treknya mirip seperti trek menuju Gunung Semeru.
Dan,yang pasti pada perjalanan Kali ini aku tidak hanya berdua dengan alvi tapi kami pergi bersama para pendaki asal Jakarta,yang umurnya 8tahun lebih tua dariku.
Meskipun sekarang ayahku mendukung hobbyku bukan berarti aku tidak harus izin.Karena bagaimanapun izin dan restu dari orangtua adalah yang terpenting.
“Yah,besok aku mau pergi mendaki ke Gunung Guntur di Garut” Ucapku
“Wah jauh ya,tapi tidak masalah. Asalkan kamu tidak melupakan kewajiban kamu sebagai seorang muslim,sholat. Dan kamu harus bisa jaga diri”Ucap ayahku
“Iya yah”
“Jadilah Ibnu Batutah untuk ayah”
“Ibnu Batutah?” tanyaku
“Ya,Ibnu Batutah. Seorang penjelajah muslim yang menjadi rujukan dunia.
Kehebatannya mampu melampui sejumlah penjelajah Eropa, seperti Christopher Columbus, Vasco da Gamma, dan Magellan. Dia menempuh perjalanan 120 ribu mil membelah lautan, tanpa bantuan mobil, kapal laut atau pesawat terbang. Kamu harus jadi seorang muslimah yang mampu menjelajahi dunia” Ucap ayahku
“Aku akan menjadi Ibnu Batutah untuk ayah” Ucapku tersenyum
*****
Gunung Guntur,Gunung yang memiliki ketinggian 2.249 Mdpl tapi memiliki sejuta pesona yang akan membuat siapa saja yang mengunjunginya akan berdecak kagum akan keindahannya.
Ketika malam datang, berdesir suara angin,pelan,riuh rendah melewati batas lembah. Bunyi suaranya,seolah sedang terjadi perbincangan. Memecah batas sunyi.
Sementara yang lain terlelap,aku keluar tenda malam itu. Menikmati kemegahan malam,meyaksikan gemerlap bintang.
“Aku pernah memimpikannya. Tapi melihatnya sedekat ini,selalu memberikan perasaan tersendiri” Ucapku dalam hati.
Langit malam berikan terangnya,nyanyikan rindu pada jejak sang petualang. Gemilang bintang warnai langit,terangi relung,dari jiwa para pengelana.
Ketika matahari terbit kita akan melihat spectrum warna jingga dibatas cakrawala yang sangat menawan. Tampak di bawah kota Garut masih tampak tertidur dengan lampu kota masih banyak yang menyala. Tampak di kejauhan Gunung Galunggung membuat perpaduan yang sangat menarik. Semakin tinggi matahari semakin nampak kemegahan alam raya ini. Di kejauhan juga nampak Gunung Cikuray dengan bentuk segitiga sama sisi sempurna. Juga terlihat Gunung Papandayan yang selalu berasap dan di utara tampak Gunung Ciremai yang merupakan Gunung tertinggi di Jawa Barat. Dan dari kejauhan juga muncul Gunung Slamet yang masih terus murka.
           Ini bukanlah akhir dari perjalananku.Masih banyak tempat-tempat indah yang belum aku kunjungi.
Karena disetiap pendakian atau perjalanan pasti selalu menyimpan kesan dan cerita tersendiri.
            Diperjalanan, terkadang terbesit kejenuhan,kelelahan beriring kekecewaan,bahkan hampir saja aku menyerah, Hingga aku menganggap takkan sampai pada ‘keikhlasan’

            Pada akhirnya, seiring kesabaran kini aku telah memahami banyak hal, dibalik duka dan luka yang dahulu menyempit didadaku, perlahan ia terbuka sejalan dengan usahaku. Kesabaran atas sikap Ayahku yang selalu melarangku melakukan pendakian kini terbayar sudah,Tiada lagi hujan dimataku yang kadang menyita hariku. Aku telah memahami arti kesabaran, Ia tak hanya terucap namun tertanam,bersama kedamaian hati seiring keikhlasan.

             Daun itu kecil,tapi jauh didalamnya terdapat banyak hal yang tersembunyi. Pendakian itu hanya satu kata,Tapi jauh didalamnya terdapat banyak kata,kalimat bahkan paragraf yang tak dapat diuraikan.
Jadilah seorang Muslimah yang mampu menjelajahi dunia. Hijab is not an obstacle to doing. Lets Travel!



Salam Lestari!