Showing posts with label Puisi dan Sajak. Show all posts

Tuan,masihkah kau disana?

Untuk tuan,
Yang mampu menenggelamkan tiap asa dalam tatapannya
Untuk tuan,
Pemilik teduh dalam tiap ucapannya
Untuk tuan,
Pelukis rindu yang kian menagih
Untuk tuan,
Tempat dari segala keluh yang tercurahkan

//

Kau memang mengagumkan
Bahkan terlalu mengagumkan untuk gadis sepertiku

//

Tentang kita,
Tentang Yogyakarta yang kala itu menjadi kota terhangat karena teduhnya malam --dan sikapmu
Tentang koridor sekolah yang kian menjadi tempat kita berpapasan pada saat itu --walau enggan untuk saling menyapa
Tentang komorebi yang selalu sudi untuk kutitipkan segumpal rindu untukmu
Tentang rasa yang diberi harap namun enggan menetap
Tentang sepaket kebahagian pada 18 Mei tahun lalu
Serta tentang puncak gunung yang diselimuti harapan kita berdua

//

Tuan,
Rasa ini rapuh
Hati ini kian ringkih
Harap ini kian resah
Impian ini kian patah

Walau asa ku kini direnggut nestapa
Semesta kian memberikan nelangsa
Harapku luntur sebelum jadi nyata
Badai kerapuhan kian menerpa

Kepadamu lah rasa ini akan tetap berlabuh
Meski luka lama tak lekas sembuh
Namun dirimu tetap utuh


-Nmz-
Bandung, 21 September 2018
12.28 Pm

Figuran

Dimana aku harus mencari kepastian?
Di relung hatimu, kah?
Di dalam ruang pilu ini, kah?
Atau,
Di dalam kisah kelam ini?

Aku memang tak pantas menuntut apapun
Lagipula,
Apa pentingnya aku dalam kisah ini?
Aku hanyalah sebagai peran figuran
Sedangkan kau dan perempuan pilihanmu itu berlari dan menari sebagai peran utama
Sedangkan aku?
Aku hanya datang ketika dibutuhkan
Aku hanya datang sebagai pelipur laramu

Semesta enggan membantuku keluar dari zona sesak ini,
Ia membiarkanku nelangsa bersama luka yang kau tanam
Semesta enggan pula membantuku membunuh waktu, waktu dimana hanya ada kau --dan aku
Ia membiarkanku tenggelam dalam masa kelam yang sama sekali tak kuharapkan

Pada akhirnya,
Aku hanyalah akan menjadi tempat singgah yang enggan kau jadikan sebagai tempatmu pulang.


-Nmz-
Bandung, 13 September 2018
9.52 Pm

Antipati

Katanya enggan menetap, namun mengapa malah singgah untuk jangka waktu yang lama?
Katanya enggan ingkar, namun mengapa terus menerus menaburkan dusta?
Katanya enggan menggoreskan luka, namun mengapa kau malah membiarkanku terjerembab dalam raga yang kian ringkih?

Untuk apa kau peduli?
Jika hanya untuk sekadar eksistensi
Atau sekadar mencari pengakuan diri

Kukira kau adalah rumah.
Kukira kau adalah tempatku pulang.
Kukira kau adalah tempatku menata semua harapan serta mimpiku tentang indahnya rindu serta penantian.

Ini realita, bukan sekadar cerita atau sekadar untuk formalitas semata.

-Nmz-
Bandung, 11 September 2018
8.16 Pm

Biarkan.. [Komorebi]

Biarkan rasa yang menjelma menjadi senyap ini menuangkan pilu dalam sebuah aksara yang sebenarnya enggan ia gurat
Biarkan pula kenyataan yang terjebak dalam ruang ilusi ini tetap bertahan meski atmosfer dalam ruang itu memaksanya untuk lekas pergi

Rasa ringkih ini pun sudah mampu membangun benteng pertahanan yang kian tegar walau diterpa semilir angin ketidakpastian

Biarkan ilusi ini terus membangun mimpi yang entah kapan akan terealisasikan.
Lagipula, mimpi tidak akan berlaku selamanya, bukan?
Mungkin, Nanti.
Ada saatnya mimpi serta ilusi yang terlanjur tumbuh besar akan luruh dengan sendirinya, kemudian menjadi kenangan yang pada akhirnya akan aku kubur dalam ruang pilu yang sesak dengan semua goresan luka

Kubilang nanti,
Bukan sekarang atau bahkan dalam waktu dekat ini
Aku yakin,
Rasa ini tak akan lagi tumbuh besar
Ia hanya akan menjadi lebih kuat bahkan tabah dalam menghadapi keapatisan sikapmu
Namun, seiring bertambahnya masa
Rasa pilu ini perlahan akan sirna, sampai akhirnya hilang

Kau membenci rasa itu?
Akupun.


-Nmz-
Bandung, 5 September 2018
21.56 Wib

[Komorebi] Tak ada lagi alasan bertahan


Selamat malam wahai perasaan ringkih,
Apa kabar ?
Masihkah menunggu ia yang tak akan pernah kembali?
Atau kian resah karena tak kunjung menemukan pengganti?

Wahai rasa ringkih,
Mengapa ia pergi begitu mudah?
Mengapa ia pergi tanpa lambaian tangan?
Mengapa pula ia membiarkanku jatuh terjerembab bersama luka yang dibiarkan tumbuh besar olehnya?

Wahai rasa yang kian resah menunggu ia pulang,
Bolehkah aku mengeluh?
Rasanya tak adil jika pada akhirnya aku tau, bahwa ia memang tak pantas kuperjuangkan sedalam ini

Namun,
Biarlah semuanya berakhir walau sebenarnya ini tak adil untukku,
Agar tak ada lagi hati yang dipatahkan terlalu dalam


-Nmz-
Subang, 11 Agustus 2018
7.09 PM

[Komorebi] Tuan, siapakah puan-mu?

Pada masa yang enggan mengikuti alur waktu,
Bersama roda rasa yang enggan berputar, namun hanya diam di satu titik yang sama
Serta dengan harapan yang kian mengakar, namun malah kau dibiarkan mati.

Tuan,
Katamu aku adalah puan-mu
Lantas mengapa kali ini kau memilih puan-mu yang lain?

Tuan,
Ingatkah saat ribuan badai menerpamu?
Ingatkah saat kau jatuh dalam lubang keterpurukan yang membuatmu enggan bangkit?
Tak sadarkah kau?
Aku disebelahmu, tuan
Lantas mengapa kali ini kau memilih pergi dan menghancurkan ruang harapan yang kutanam untukmu?

Tuan,
Biarlah aku menjadi pelipur laramu,
Walau tanpa bosan kau patahkan aku berulang kali
Aku tak apa, tuan

Tuan,
Biarlah aku mengubur rasaku bersama ucapan manis yang sempat kau ucapkan
Biarlah aku berusaha menghindar dari ratusan badai yang kau tanamkan dalam masa laluku

Tuan,
Biarlah sekuel cerita ini berakhir walau tanpa bahagia

-Nmz-
Subang, 10 Agustus 2018
9.34 pm

ISLAM [Di Masa Millenial]

Aku mematung dalam sebuah ruangan dengan pencahayaan tak terlalu terang
Pikiranku membawaku melompat dari satu masa ke masa yang lain
Kulihat dalam satu masa, sekumpulan orang tertawa dengan begitu lantang padahal mereka tengah melakukan dosa yang teramat besar
Kulihat dalam masa yang lain, beberapa orang tengah melakukan sesuatu yang terlarang namun mereka bersumpah bahwa itu semua atas nama ISLAM.
Miris.
Kulihat lagi di masa yang berbeda, Seorang wanita dan lelaki yang bukan mahromnya melakukan hal yang sama sekali tak pantas dilakukan, namun mereka bersembunyi dibalik embel-embel "Relationship Goal's"
Ada juga disana, beberapa kaum muslimah yang menggunakan pakaian syar'i, mereka tengah berdakwah atas nama Allah dan Rosul-Nya, namun kaum lain mengolok-ngoloknya dengan ucapan
"Alah, ngapain pake hijab lebar-lebar gak modis"
"Hati dulu tutupin, baru aurat"
"Sok suci banget sih. Gak usah sok ngasih tau deh, benerin diri sendiri aja dulu"
Aku menangis. Sungguh menyedihkan, bukan?
Tak bisa dipungkiri, itulah gambaran islam masa kini
Dimana kaum Muslim/Muslimah yang melekatkan nama Allah dan Rosul di hatinya selalu dicaci dan dimaki
Sedangkan kaum yang melanggar ketentuan-Nya selalu dipuji dan disanjung
Mereka mengejar kebahagian dalam dunia yang semu sampai mereka lupa perihal akhirat yang kekal

Waktu akan terus berjalan, Pun puluhan masa akan lekas kita lewati
Namun ingatlah,
Tuhan kita tetap Allah Swt

Semoga kalian yang membaca ini akan tetap memegang kuat ajaran Islam dan tetap berada di jalan Allah Swt. Aamiin.

-Nmz-
Subang, 20 Juli 2018
11.30 pm

Perihal Penantian

Untuk kesekian kalinya,
Aku terpaku dalam ruang yang dipenuhi kenangan masa lalu
Terkadang, masa lalu yang sudah kubiarkan pergi tetap memaksaku untuk kembali
Cerita usang yang memang masih berada dalam ambang ketidakpastian sudah kubiarkan mati
Pun perasaanku yang sampai detik ini masih untuknya tak lagi ku gubris

Bukan,
Aku bukan menyakiti diriku sendiri
Aku hanya berusaha menempatkan di titik mana aku harus berjuang

Tak bisa kupungkiri,
Sulit rasanya untuk mengubur masa lalu, sulit pula untuk mengubur rasa untuknya
Namun,
Cita-cita serta kewajibanku sebagai umat Muslimah memaksaku untuk menelan bulat kenyataan bahwa fitrah yang diberi oleh sang Maha Kuasa hanya akan menjadi perasaan yang kusimpan rapi dalam ruang pilu yang kian menyiksaku

Ketahuilah,
Tak mudah bagi seorang wanita untuk jatuh cinta
Wanita adalah mulia
Ia tak mungkin mengorbankan kemuliannya demi mendapat timbal balik atas perasaannya
--begitupun aku

Biarlah waktu menjawab semua penantianku
Aku tak pernah pergi,
Aku hanya menjaga kemuliaanku dan mengejar mimpi serta ambisiku
Biarlah yang Maha Kuasa memainkan skenario terbaik-Nya
Semoga yang terbaik untukku, pun untukmu.

-Nmz-
Subang, 20 Juli 2018
11.18 pm

[Komorebi] Kisah yang Nyaris Usai

Air mata selalu mengalir deras saat aku tak sengaja mengundang masa lalu memenuhi ruang pikiranku
Mereka seolah enggan pergi dari benakku,
Padahal mereka tau kisah kita telah usai walau ditopang dengan ketidakpastian

Pada akhirnya, kita memilih untuk berjalan masing-masing
Kau dengan ambisimu, dan aku dengan cita-cita serta impianku
Padahal, kita masih akan tetap berada dibawah langit yang sama
Pun berpijak diatas bumi yang sama
Namun, Kelak kamu bukan lagi orang yang sama
Atau kamu masih orang yang sama namun dengan perasaan yang berbeda
Begitupun aku,
Tak selamanya aku akan terus terjebak dalam ruang hatimu
Ada saatnya aku akan tersenyum ikhlas ketika melihatmu, walaupun nyatanya kamu hanya akan tetap menjadi bahagiaku di masa lalu
Dan kamu hanya akan menjadi kisahku di masa putih abu

Namamu memang perlahan akan sirna, begitupun dirimu yang kian hari kian menjadi kenangan
Namun aku tau,
Ada kalanya aku perlu membuka kenangan itu
Agar aku selalu ingat,
Bahwa aku pernah berjuang dan bertahan walau ditopang ketidakpastian
Bahwa aku tumbuh dari rasa sakit dan dipatahkan berulang kali
Bahkan itu lebih buruk dari sekedar patah hati
Kian hari pun aku semakin sadar, bahwa masa lalu memang selalu menumbuhkan rasa ikhlas dalam menerima kenyataan

Dan untukmu, komorebi-ku.
Terimakasih.

-Nmz-
24 Juni 2018
11.40 pm

[Komorebi] Sekuel cerita yang usang

Sajakku benar-benar usang
Tiap aksara yang senantiasa menghiasinya kini sirna
Mereka bertaburan di ambang harapan yang tak kunjung menemukan titik pasti
Guratan aksara dalam sajakku enggan kembali,
Mereka bersikeras akan tetap berada disana sampai kau kembali,
Mereka menunggu jari-jariku kembali menuliskan namamu diantara aksara-aksara yang selalu kuukir dalam sajakku
Mereka merindukanmu, Aksara serta sajakku merindukanmu --apalagi aku
Sekuel cerita bersamamu memang belum usai,namun mereka hanya dipaksa berhenti tanpa menemukan bagaimana akhirnya
Bahkan kisah ini tak tau apakah ia akan berakhir bahagia atau berakhir bersama goresan luka, Ia gusar, menunggu bagaimana akhirnya.

Perasaanku mati seketika,
Aku bahkan lupa bagaimana caranya bahagia
Aku tak tau mana bahagia, aku juga tak tau mana luka
Semua tampak abu-abu

Kelak,
Bahagiaku bukan lagi kamu
Kamu-pun tak akan lagi menjadi alasan dari tiap lukaku
Namun,
Tetap saja, jika mengingat masa putih abu kamu akan tetap menjadi nama pertama yang terlintas
Kamu-pun akan menjadi seseorang yang paling banyak mengisi sekuel cerita hidupku yang belum usai

-Nmz-
22 Juni 2018
11.11 pm

(Bukan) Komorebi

5.658 kata tersusun dalam belasan sajak yang kurangkai berima,
Sosokmu kian menari bersama sajak yang kubiarkan berada di ambang imajinasi
Belasan puisi kubiarkan terpampang bersama harapan yang tak tau arah
Ketidakpastianmu tak lagi ku gubris, karena ribuan kata telah mewakilkan apa yang sempat kurasakan
Kepergianmu pula tak lagi ku tangisi, karena belasan sajak telah menyimpan rapi namamu dalam tiap abjad yang kuukir bersama kata yang menyimpan berjuta makna
Terimakasih kusampaikan kepadamu, tuan
Karena dahulu kau telah sudi membiarkan namamu senantiasa menghiasi tiap bait sajakku
Tak lupa pula kusampaikan maaf padamu,tuan
Karena kepergianmu kali ini membuatku tak akan lagi membiarkan namamu terukir bersama kata-kata dalam sajakku.

-Nmz-
Subang, 10 Juni 2018
12.19 pm

Penciptanya atau ciptaan-Nya?

Puncak dari rasa sayang itu adalah ketika kata-kata terkunci dalam mulut dan enggan mengatakan apa yang dirasa
Namun, senantiasa menyebut namanya dalam tiap kidung do'a
Karena tak ada yang lebih indah dari perasaan dalam diam

Perasaan yang tumbuh besar namun enggan untuk disampaikan
Mata yang senantiasa memerhatikan keberadaannya, namun mulut tak sanggup untuk memanggil namanya
Dan hati yang akan selalu siap menampung segala rasa yang terkunci sangat dalam

Mereka menyebutnya "Jatuh cinta dalam diam"
Tapi bagiku bukan,
Ada kalanya kita hanya perlu untuk mendekatkan diri kepada yang maha kuasa agar apa yang kita butuhkan lekas dikabulkan
Bagaimana bisa kau berjuang untuk seseorang, tapi kau lupa untuk terus berikhtiar kepada dzat yang maha membolak-balikan hati
Bagaimana bisa kau mencintai ciptaan-Nya namun kau mengacuhkan penciptanya
Simpanlah perasaanmu untuk sementara, yang maha kuasa akan selalu tau apa yang terbaik untukmu
Dan percayalah, semua akan berakhir dalam skenario yang terindah
Jika memang akhirnya kau tak dipersatukan dengan seseorang yang selalu kau sebut namanya dalam tiap do'amu, mungkin kau akan dipersatukan dengan seseorang yang selalu menyebut namamu dalam do'anya tanpa pernah kau ketahui.

-Nmz-
Subang, 3 Juni 2018
01.01 WIB

Monokrom

Belasan foto yang dibalut dengan warna monokrom menghiasi dinding bangunan tempat dimana kita selalu menghabiskan waktu bersama
Potretku dan dirimu terpampang jelas disana
Kamu selalu terlihat gagah dengan menggunakan tas keril,sepatu dan juga jaket gunungmu itu
Belasan foto monokrom sebanding dengan belasan gunung yang telah kita daki bersama
Aku tau,
Bagimu monokrom adalah sebuah keindahan
Katamu, Hitam dan putih adalah warna yang berhasil melahirkan warna-warna indah lainnya
Karena hitam dan putih juga adalah warna yang mewakili kenyataan hidup yang tak bisa diprediksi
Mungkin itu salah satu dari sekian banyak alasanmu mencintai monokrom

Dua bulan yang lalu, tepatnya pada tanggal 20 November
Kau memutuskan untuk membawaku pergi ke titik setinggi gunung Rinjani
Gunung dengan segara anak yang teramat mengagumkan
Akankah Rinjani menjadi tempat terakhir kita mendaki bersama?
Akankah kenangan terakhir kita terkubur diatas kawah Rinjani?

Aku tersenyum mengingatmu
Mengingat filosofi monokrom yang kau lontarkan
Dan juga mengingat Rinjani

Hari ini,
Aku janji akan menemuimu
Aku akan memberikan salah satu dari belasan koleksi foto monokrom yang berisi potret kita berdua
Kau terlihat tampan di foto itu dengan memegang papan bertuliskan 'Top Mt.Rinjani', hanya saja matamu terlihat sedikit sayu
"Aku mencintamu, Pun jika memang tidak di dunia ini. Tapi nanti di dunia yang lebih abadi" Ucapmu saat itu
Aku tersenyum kaku karena aku tak mengerti maksudmu

Kini aku tepat berada didepanmu
Aku kembali tersenyum meski air mata tak bisa kubendung
"Aku mencintamu, Pun jika memang tidak di dunia ini. Tapi nanti di dunia yang lebih abadi" Ucapku, mengulang kata-kata yang ucapkan dua bulan yang lalu. Kini aku mengerti apa maksudmu.
Aku tak pernah cukup tegar untuk berlama-lama ditempat ini
Aku bergegas pergi,
Setelah menyimpan foto monokrom didepan nisan mu.

'Semoga kita bertemu di dunia yang abadi'


-Nmz-
Subang, 31 Mei 2018
12.17 WIB

Edelweis itu Kamu

Dibawah langit kota hujan yang menampakkan cahaya jingganya.
Disebuah tenda bermerk 'Rei' yang dibalut dengan beribu kenyamanan.
Dan, di 2.750 Meter diatas permukaan laut.
Kala itu,
Aku terpaku melihat 'bunga abadi' yang tengah mekar.
Kelopaknya yang berwarna putih siap menyambut para pendaki yang hendak mendirikan tenda di alun-alun suryakencana ini.
Tak segan, bunga abadi ini juga siap menghipnotis para pendaki dengan keindahannya.
Sehingga tak jarang tangan-tangan nakal mencoba mencuri bunga ini dari habitatnya.
Mereka menyebutnya 'Edelweis'.
Bunga abadi yang kini terhampar luas di alun-alun suryakencana --tepat didepan mataku .
Aku pernah membaca di suatu novel fiksi berjudul 'Bara' , disana tertulis ;
"Janganlah kamu membawakan edelweis untuk orang yang kamu cintai. Tetapi ajaklah dia ke tempat dimana bunga itu tumbuh dan bersemi"
Aku terpikat,
Aku teringat kamu,
Kamu berhasil membawaku ke titik ini
Bukan sosok sempurna yang kucari,
Tapi kamulah yang kucari, pendaki kusam dengan sepatu gunung dan tas gunung bermerk 'Rei' .
Kamu selalu berkata ;
"Gunung itu Indah, apalagi kalau ada hamparan edelweis yang membuatnya terlihat sempurna"
Aku hanya tersenyum
"Aku janji. Aku bakal bawa kamu ke tempat itu"
Aku hanya mengangguk

Benar adanya,
Kini aku berada di tempat yang selalu ku impikan, Gunung Gede Pangrango.
Tempat legendaris bagi para penggemar soe hok gie.
Tak lupa,
Lembah Mandalawangi.
Hamparan edelweis yang tak kalah indah menghiasi lembah ini.
Tempat dimana soe hok gie menuliskan puisinya.

Aku selalu memimpikannya
Namun, melihatnya sedekat ini selalu memberikan perasaan tersendiri

Kamu hanya tersenyum melihatku terbelakak kagum melihat tempat ini,
"Sejauh apapun aku bertualang, kamu lah tempatku kembali" Ucapmu "Teruslah mendaki bersamaku agar aku tak terlalu terburu-buru untuk pulang, karena hanya kamu lah adalah alasanku untuk pulang"


-Nmz-
Subang, 18 Mei 2018
11.59

Komorebi (Lagi)

Ruang yang penuh akan sandiwara ini selalu membuatku nyaman
Kau yang selalu bersandiwara seolah kau mempunyai rasa yang sama denganku, dan aku yang senantiasa bersandiwara seolah aku selalu mempercayaimu
Memang sulit menghentikan kepura-puraan yang terlanjur melampau jauh

Entah apa yang membuatmu melakukan sandiwara bodoh itu,
Yang jelas asalanku tetap mempercayaimu karena aku tak ingin kamu pergi.
Kadang, berpura-pura tak tau perihal sesuatu yang menyakitkan itu akan jauh lebih baik

Aku mencintaimu, sejak 15 bulan yang lalu ---sampai detik ini, komorebiku.


Atmosfer dalam zona ini terlanjur membuatku tak bisa melangkah jauh
Sederhananya, kamu membuatku terperangkap dalam suatu zona dimana aku tak bisa berpindah ke zona lain
Namun kamu bebas melangkah dan berlarian kemanapun kamu mau
Aku bukan wayangmu yang bisa kau mainkan sesuai skenariomu
Karena pada nyatanya, derai air mataku hanya disebabkan olehmu
Biarkan aku melangkah jauh dan tak lagi terjebak dalam rasa menyedihkan ini
Ada kalanya, hatiku ingin bebas ---bebas dari rasa sakit yang selalu kau goreskan
Ada kalanya, hatiku ingin mati rasa ---mati rasa akan luka.

-Nmz-
Bandung, 9 Mei 2018
10.30 WIB

Kamu dan Semua Ilusiku

Sajakku sempat usang karena hilangnya namamu yang selama ini senantiasa menjadi inspirasiku
Terkadang, aku lelah
Kamu yang kian hari kian menjadi ilusi dalam nyata
Kamu yang kian hari kian sirna dalam nyata

Kamu bertindak seolah membuatku tak tau harus lari kearah mana
Aku masih berdiri disini,bersama janji yang sempat kau ucapkan --dulu
Terkadang kau tak peduli akan hadirku, apatis terhadap semua tentangku
Namun dilain waktu,
Terkadang kau ucapkan kembali bualan manis yang sampai sekarang tak bisa kau realisasikan
Kini perasaanku berada di ambang imajinasi
Aku bagai seuntai debu yang tak punya arah

Aku memang senantiasa berdiri di titik ini --dengan rasa dan alasan yang sama
Kamu ilusi dalam dunia nyataku
Namun,
Kamu nyata dalam setiap kidung do'aku


-Nmz-
Subang,13 April 2018
17.38 WIB

Rasa sakit,rindu,dan kenangan

Perkenalkan, ia adalah rasa sakit. Ia senantiasa bersamaku kemanapun aku pergi. Ia datang dalam hidupku bersamaan dengan perginya kamu dan acuhnya sikapmu kepadaku. Hatiku terkadang risi karena kehadirannya,namun seiring berjalannya waktu, hatiku mulai membiasakan diri untuk hidup bersama rasa itu--Rasa sakit,maksudku.
Namun ada satu hal yang sempat aku pertanyakan, kurasa kepergianmu telah lama berlalu, bukan? Lantas, mengapa rasa sakit ini tak kunjung pergi? Mengapa rasa sakit yang kini tak lagi basah malah tumbuh dan mengakar dalam hidupku? . Baiklah, aku tau ini konyol. Namun, kurasa aku teramat nyaman dan tak bisa keluar dari zona ini --zona yang dipenuhi oleh rasa sakit. Bagaimana bisa? Ribuan orang diluar sana berusaha untuk bisa mendapatkan bahagia mereka dan terus menerus mengutuk rasa sakit yang kian datang dalam hidup mereka. Namun, lihatlah aku. Aku tak pernah berusaha sekeras itu untuk menggapai bahagiaku, aku malah nyaman berkecimpung bersama rasa sakitku. Ah, kurasa semua orang tau alasannya. Bukan, bukan karena tak ada satupun orang yang sudi untuk mencoba menumpas habis rasa sakit yang mengakar dalam hidupku. Mereka telah mencobanya. Namun,sayang sekali. Aku hanya sayang kepadamu, aku tak bisa menerima siapapun. Beginilah sekarang, aku jauh lebih nyaman bersama rasa sakit yang kau goreskan daripada aku harus memaksakan diri untuk bahagia bersama seseorang yang tak pernah kuharapkan.
Hei, aku nyaris lupa.
Perkenalkan, ini temanku yang lain. Rindu,namanya. Ia berkawan baik dengan rasa sakit yang tadi aku ceritakan. Rindu tak sesetia rasa sakit, ia terkadang pergi dari hidupku. Namun, ia pasti akan datang lagi. Kau harus tau kebiasaan Rindu, ia selalu datang diwaktu yang sama --Tengah malam. Kala rindu datang, rindu selalu mengajak temannya, ia menyebutnya 'Kenangan'. Mereka berdua sangat hebat, karena setiap mereka datang mereka selalu berhasil mengundang air mata mengalir deras dipipiku.
 Kurang lebih seperti itu. Rasa sakit,rindu,dan kenangan adalah temanku ketika aku menyayangimu. Mungkin, mereka akan menjadi temanku selamanya. Kurasa kau mengerti apa maksudku.

Rasa sakit,rindu dan kenangan berkata padaku, apakah kalian tertarik untuk berteman dengan mereka? Mereka tak keberatan katanya:)

Salam dariku,
Si senyap dalam keramaian


-Nmz-
Subang, 1 April 2018
00.21 Wib

Komorebi-Ku hilang

Bukankah ini yang aku inginkan sejak dulu?
Bukankan ini yang aku harapkan sejak kamu pergi?
--Aku ingin kamu kembali.
Lantas,
Setelah kamu kembali, mengapa rasanya teramat janggal?
Aku terlalu naif untuk mengakui bahwa nyatanya perasaanku berubah
Perasaanku yang sempat tumbuh dan mengakar pernah kau pangkas habis
Hingga sampai sekarang, perasaan itu tak bisa kian tumbuh seperti dulu
Terlalu banyak bualan manismu yang tak bisa kau realisasikan --omong kosong, kasarnya.
Terlalu banyak badai yang kau tanamkan dalam duniaku.
Nyatanya,
Aku muak akan sikapmu.
Puluhan rembulan pernah aku lewati tanpa hadirnya dirimu
Sekarang,
Jangan pernah tanyakan perihal perasaanku padamu
Karena pada akhirnya yang kamu sia-siakan kelak akan menjadi sesuatu yang paling kamu butuhkan, namun sayangnya keadaan tak bisa kamu putar seperti sedia kala
Sekali ku katakan,
Selamat kehilangan cinta yang paling besar.


-Nmz-
Subang,23 Maret 2018
23.48

Dariku, si senyap dalam keramaian

Kala itu.
Didalam ruangan bercat putih dengan suasana senyap. Ia datang.
Bersama rambut yang tak jelas bentuknya,Bersama rahang tirus yang terkesan tegas,Bersama jaket kulit dan juga masker lorengnya. Tatapan matanya yang terkesan cuek dan cara berbicara nya yang terdengar seakan tak peduli akan suasana sekitarnya. Ia nampak apatis namun mengagumkan.
Dua jam berlalu, akhirnya kami meninggalkan bangunan besar dengan cat dominan berwarna kuning dan merah.
Itu dia. Si lelaki apatis yang mengagumkan. Ia menaiki motornya. Entah motor jenis apa yang jelas jika kalian pengagum Dilan 1990, kalian tak asing dengan bentuk motornya.
Ah, tampaknya ia memang tak akan memberi senyumnya kepada seseorang yang belum ia kenal.
Tiga bulan aku mengagumi dirinya --kagum dalam diam tentunya. Tidak, aku tidak berkata bahwa aku menaruh hati padanya. Maksudku, belum. Aku belum menaruh hati padanya. Aku hanya sebatas mengaguminya, ia tak pernah berpenampilan rapi. Penampilannya memang selalu terkesan berantakan. Namun aku menyukai itu semua.
Aku tak tau bagaimana perasaanku untuk beberapa bulan kedepan. Yang aku tau, aku mengaguminya.

Dariku,
Si senyap didalam keramaian


-Nmz-
Subang, 15 Maret 2018
20.40

Kamu. #FiksiReceh

"Kau bisa mencari yang lebih baik dariku" Ucapnya sembari menghela napas
"Tidak. Aku tak akan mencari yang lebih baik darimu. Aku ingin yang seperti kamu. Maksudku, tidak. Aku tidak ingin yang seperti kamu. Aku ingin kamu" Jawabku tersedu-sedu
"Maaf, tapi aku tidak --tidak ingin kamu" Ucapnya, ia kemudian berbalik badan dan meninggalkanku
Aku terdiam melihatnya pergi bersama perempuan yang ia sebut 'lebih baik' itu. Suara motornya kian menjauh bersamaan dengan tenggelamnya senja di langit pasundan.
"Aku menunggumu" Ucapku tersenyum, miris.


-Nmz-
Subang, 26 Februari 2018