Showing posts with label Puisi dan Sajak. Show all posts

Tuan,masihkah kau disana?

Untuk tuan,
Yang mampu menenggelamkan tiap asa dalam tatapannya
Untuk tuan,
Pemilik teduh dalam tiap ucapannya
Untuk tuan,
Pelukis rindu yang kian menagih
Untuk tuan,
Tempat dari segala keluh yang tercurahkan

//

Kau memang mengagumkan
Bahkan terlalu mengagumkan untuk gadis sepertiku

//

Tentang kita,
Tentang Yogyakarta yang kala itu menjadi kota terhangat karena teduhnya malam --dan sikapmu
Tentang koridor sekolah yang kian menjadi tempat kita berpapasan pada saat itu --walau enggan untuk saling menyapa
Tentang komorebi yang selalu sudi untuk kutitipkan segumpal rindu untukmu
Tentang rasa yang diberi harap namun enggan menetap
Tentang sepaket kebahagian pada 18 Mei tahun lalu
Serta tentang puncak gunung yang diselimuti harapan kita berdua

//

Tuan,
Rasa ini rapuh
Hati ini kian ringkih
Harap ini kian resah
Impian ini kian patah

Walau asa ku kini direnggut nestapa
Semesta kian memberikan nelangsa
Harapku luntur sebelum jadi nyata
Badai kerapuhan kian menerpa

Kepadamu lah rasa ini akan tetap berlabuh
Meski luka lama tak lekas sembuh
Namun dirimu tetap utuh


-Nmz-
Bandung, 21 September 2018
12.28 Pm

Figuran

Dimana aku harus mencari kepastian?
Di relung hatimu, kah?
Di dalam ruang pilu ini, kah?
Atau,
Di dalam kisah kelam ini?

Aku memang tak pantas menuntut apapun
Lagipula,
Apa pentingnya aku dalam kisah ini?
Aku hanyalah sebagai peran figuran
Sedangkan kau dan perempuan pilihanmu itu berlari dan menari sebagai peran utama
Sedangkan aku?
Aku hanya datang ketika dibutuhkan
Aku hanya datang sebagai pelipur laramu

Semesta enggan membantuku keluar dari zona sesak ini,
Ia membiarkanku nelangsa bersama luka yang kau tanam
Semesta enggan pula membantuku membunuh waktu, waktu dimana hanya ada kau --dan aku
Ia membiarkanku tenggelam dalam masa kelam yang sama sekali tak kuharapkan

Pada akhirnya,
Aku hanyalah akan menjadi tempat singgah yang enggan kau jadikan sebagai tempatmu pulang.


-Nmz-
Bandung, 13 September 2018
9.52 Pm

Antipati

Katanya enggan menetap, namun mengapa malah singgah untuk jangka waktu yang lama?
Katanya enggan ingkar, namun mengapa terus menerus menaburkan dusta?
Katanya enggan menggoreskan luka, namun mengapa kau malah membiarkanku terjerembab dalam raga yang kian ringkih?

Untuk apa kau peduli?
Jika hanya untuk sekadar eksistensi
Atau sekadar mencari pengakuan diri

Kukira kau adalah rumah.
Kukira kau adalah tempatku pulang.
Kukira kau adalah tempatku menata semua harapan serta mimpiku tentang indahnya rindu serta penantian.

Ini realita, bukan sekadar cerita atau sekadar untuk formalitas semata.

-Nmz-
Bandung, 11 September 2018
8.16 Pm

Biarkan.. [Komorebi]

Biarkan rasa yang menjelma menjadi senyap ini menuangkan pilu dalam sebuah aksara yang sebenarnya enggan ia gurat
Biarkan pula kenyataan yang terjebak dalam ruang ilusi ini tetap bertahan meski atmosfer dalam ruang itu memaksanya untuk lekas pergi

Rasa ringkih ini pun sudah mampu membangun benteng pertahanan yang kian tegar walau diterpa semilir angin ketidakpastian

Biarkan ilusi ini terus membangun mimpi yang entah kapan akan terealisasikan.
Lagipula, mimpi tidak akan berlaku selamanya, bukan?
Mungkin, Nanti.
Ada saatnya mimpi serta ilusi yang terlanjur tumbuh besar akan luruh dengan sendirinya, kemudian menjadi kenangan yang pada akhirnya akan aku kubur dalam ruang pilu yang sesak dengan semua goresan luka

Kubilang nanti,
Bukan sekarang atau bahkan dalam waktu dekat ini
Aku yakin,
Rasa ini tak akan lagi tumbuh besar
Ia hanya akan menjadi lebih kuat bahkan tabah dalam menghadapi keapatisan sikapmu
Namun, seiring bertambahnya masa
Rasa pilu ini perlahan akan sirna, sampai akhirnya hilang

Kau membenci rasa itu?
Akupun.


-Nmz-
Bandung, 5 September 2018
21.56 Wib

[Komorebi] Tak ada lagi alasan bertahan


Selamat malam wahai perasaan ringkih,
Apa kabar ?
Masihkah menunggu ia yang tak akan pernah kembali?
Atau kian resah karena tak kunjung menemukan pengganti?

Wahai rasa ringkih,
Mengapa ia pergi begitu mudah?
Mengapa ia pergi tanpa lambaian tangan?
Mengapa pula ia membiarkanku jatuh terjerembab bersama luka yang dibiarkan tumbuh besar olehnya?

Wahai rasa yang kian resah menunggu ia pulang,
Bolehkah aku mengeluh?
Rasanya tak adil jika pada akhirnya aku tau, bahwa ia memang tak pantas kuperjuangkan sedalam ini

Namun,
Biarlah semuanya berakhir walau sebenarnya ini tak adil untukku,
Agar tak ada lagi hati yang dipatahkan terlalu dalam


-Nmz-
Subang, 11 Agustus 2018
7.09 PM

[Komorebi] Tuan, siapakah puan-mu?

Pada masa yang enggan mengikuti alur waktu,
Bersama roda rasa yang enggan berputar, namun hanya diam di satu titik yang sama
Serta dengan harapan yang kian mengakar, namun malah kau dibiarkan mati.

Tuan,
Katamu aku adalah puan-mu
Lantas mengapa kali ini kau memilih puan-mu yang lain?

Tuan,
Ingatkah saat ribuan badai menerpamu?
Ingatkah saat kau jatuh dalam lubang keterpurukan yang membuatmu enggan bangkit?
Tak sadarkah kau?
Aku disebelahmu, tuan
Lantas mengapa kali ini kau memilih pergi dan menghancurkan ruang harapan yang kutanam untukmu?

Tuan,
Biarlah aku menjadi pelipur laramu,
Walau tanpa bosan kau patahkan aku berulang kali
Aku tak apa, tuan

Tuan,
Biarlah aku mengubur rasaku bersama ucapan manis yang sempat kau ucapkan
Biarlah aku berusaha menghindar dari ratusan badai yang kau tanamkan dalam masa laluku

Tuan,
Biarlah sekuel cerita ini berakhir walau tanpa bahagia

-Nmz-
Subang, 10 Agustus 2018
9.34 pm

ISLAM [Di Masa Millenial]

Aku mematung dalam sebuah ruangan dengan pencahayaan tak terlalu terang
Pikiranku membawaku melompat dari satu masa ke masa yang lain
Kulihat dalam satu masa, sekumpulan orang tertawa dengan begitu lantang padahal mereka tengah melakukan dosa yang teramat besar
Kulihat dalam masa yang lain, beberapa orang tengah melakukan sesuatu yang terlarang namun mereka bersumpah bahwa itu semua atas nama ISLAM.
Miris.
Kulihat lagi di masa yang berbeda, Seorang wanita dan lelaki yang bukan mahromnya melakukan hal yang sama sekali tak pantas dilakukan, namun mereka bersembunyi dibalik embel-embel "Relationship Goal's"
Ada juga disana, beberapa kaum muslimah yang menggunakan pakaian syar'i, mereka tengah berdakwah atas nama Allah dan Rosul-Nya, namun kaum lain mengolok-ngoloknya dengan ucapan
"Alah, ngapain pake hijab lebar-lebar gak modis"
"Hati dulu tutupin, baru aurat"
"Sok suci banget sih. Gak usah sok ngasih tau deh, benerin diri sendiri aja dulu"
Aku menangis. Sungguh menyedihkan, bukan?
Tak bisa dipungkiri, itulah gambaran islam masa kini
Dimana kaum Muslim/Muslimah yang melekatkan nama Allah dan Rosul di hatinya selalu dicaci dan dimaki
Sedangkan kaum yang melanggar ketentuan-Nya selalu dipuji dan disanjung
Mereka mengejar kebahagian dalam dunia yang semu sampai mereka lupa perihal akhirat yang kekal

Waktu akan terus berjalan, Pun puluhan masa akan lekas kita lewati
Namun ingatlah,
Tuhan kita tetap Allah Swt

Semoga kalian yang membaca ini akan tetap memegang kuat ajaran Islam dan tetap berada di jalan Allah Swt. Aamiin.

-Nmz-
Subang, 20 Juli 2018
11.30 pm

Perihal Penantian

Untuk kesekian kalinya,
Aku terpaku dalam ruang yang dipenuhi kenangan masa lalu
Terkadang, masa lalu yang sudah kubiarkan pergi tetap memaksaku untuk kembali
Cerita usang yang memang masih berada dalam ambang ketidakpastian sudah kubiarkan mati
Pun perasaanku yang sampai detik ini masih untuknya tak lagi ku gubris

Bukan,
Aku bukan menyakiti diriku sendiri
Aku hanya berusaha menempatkan di titik mana aku harus berjuang

Tak bisa kupungkiri,
Sulit rasanya untuk mengubur masa lalu, sulit pula untuk mengubur rasa untuknya
Namun,
Cita-cita serta kewajibanku sebagai umat Muslimah memaksaku untuk menelan bulat kenyataan bahwa fitrah yang diberi oleh sang Maha Kuasa hanya akan menjadi perasaan yang kusimpan rapi dalam ruang pilu yang kian menyiksaku

Ketahuilah,
Tak mudah bagi seorang wanita untuk jatuh cinta
Wanita adalah mulia
Ia tak mungkin mengorbankan kemuliannya demi mendapat timbal balik atas perasaannya
--begitupun aku

Biarlah waktu menjawab semua penantianku
Aku tak pernah pergi,
Aku hanya menjaga kemuliaanku dan mengejar mimpi serta ambisiku
Biarlah yang Maha Kuasa memainkan skenario terbaik-Nya
Semoga yang terbaik untukku, pun untukmu.

-Nmz-
Subang, 20 Juli 2018
11.18 pm

[Komorebi] Kisah yang Nyaris Usai

Air mata selalu mengalir deras saat aku tak sengaja mengundang masa lalu memenuhi ruang pikiranku
Mereka seolah enggan pergi dari benakku,
Padahal mereka tau kisah kita telah usai walau ditopang dengan ketidakpastian

Pada akhirnya, kita memilih untuk berjalan masing-masing
Kau dengan ambisimu, dan aku dengan cita-cita serta impianku
Padahal, kita masih akan tetap berada dibawah langit yang sama
Pun berpijak diatas bumi yang sama
Namun, Kelak kamu bukan lagi orang yang sama
Atau kamu masih orang yang sama namun dengan perasaan yang berbeda
Begitupun aku,
Tak selamanya aku akan terus terjebak dalam ruang hatimu
Ada saatnya aku akan tersenyum ikhlas ketika melihatmu, walaupun nyatanya kamu hanya akan tetap menjadi bahagiaku di masa lalu
Dan kamu hanya akan menjadi kisahku di masa putih abu

Namamu memang perlahan akan sirna, begitupun dirimu yang kian hari kian menjadi kenangan
Namun aku tau,
Ada kalanya aku perlu membuka kenangan itu
Agar aku selalu ingat,
Bahwa aku pernah berjuang dan bertahan walau ditopang ketidakpastian
Bahwa aku tumbuh dari rasa sakit dan dipatahkan berulang kali
Bahkan itu lebih buruk dari sekedar patah hati
Kian hari pun aku semakin sadar, bahwa masa lalu memang selalu menumbuhkan rasa ikhlas dalam menerima kenyataan

Dan untukmu, komorebi-ku.
Terimakasih.

-Nmz-
24 Juni 2018
11.40 pm

[Komorebi] Sekuel cerita yang usang

Sajakku benar-benar usang
Tiap aksara yang senantiasa menghiasinya kini sirna
Mereka bertaburan di ambang harapan yang tak kunjung menemukan titik pasti
Guratan aksara dalam sajakku enggan kembali,
Mereka bersikeras akan tetap berada disana sampai kau kembali,
Mereka menunggu jari-jariku kembali menuliskan namamu diantara aksara-aksara yang selalu kuukir dalam sajakku
Mereka merindukanmu, Aksara serta sajakku merindukanmu --apalagi aku
Sekuel cerita bersamamu memang belum usai,namun mereka hanya dipaksa berhenti tanpa menemukan bagaimana akhirnya
Bahkan kisah ini tak tau apakah ia akan berakhir bahagia atau berakhir bersama goresan luka, Ia gusar, menunggu bagaimana akhirnya.

Perasaanku mati seketika,
Aku bahkan lupa bagaimana caranya bahagia
Aku tak tau mana bahagia, aku juga tak tau mana luka
Semua tampak abu-abu

Kelak,
Bahagiaku bukan lagi kamu
Kamu-pun tak akan lagi menjadi alasan dari tiap lukaku
Namun,
Tetap saja, jika mengingat masa putih abu kamu akan tetap menjadi nama pertama yang terlintas
Kamu-pun akan menjadi seseorang yang paling banyak mengisi sekuel cerita hidupku yang belum usai

-Nmz-
22 Juni 2018
11.11 pm

(Bukan) Komorebi

5.658 kata tersusun dalam belasan sajak yang kurangkai berima,
Sosokmu kian menari bersama sajak yang kubiarkan berada di ambang imajinasi
Belasan puisi kubiarkan terpampang bersama harapan yang tak tau arah
Ketidakpastianmu tak lagi ku gubris, karena ribuan kata telah mewakilkan apa yang sempat kurasakan
Kepergianmu pula tak lagi ku tangisi, karena belasan sajak telah menyimpan rapi namamu dalam tiap abjad yang kuukir bersama kata yang menyimpan berjuta makna
Terimakasih kusampaikan kepadamu, tuan
Karena dahulu kau telah sudi membiarkan namamu senantiasa menghiasi tiap bait sajakku
Tak lupa pula kusampaikan maaf padamu,tuan
Karena kepergianmu kali ini membuatku tak akan lagi membiarkan namamu terukir bersama kata-kata dalam sajakku.

-Nmz-
Subang, 10 Juni 2018
12.19 pm

Penciptanya atau ciptaan-Nya?

Puncak dari rasa sayang itu adalah ketika kata-kata terkunci dalam mulut dan enggan mengatakan apa yang dirasa
Namun, senantiasa menyebut namanya dalam tiap kidung do'a
Karena tak ada yang lebih indah dari perasaan dalam diam

Perasaan yang tumbuh besar namun enggan untuk disampaikan
Mata yang senantiasa memerhatikan keberadaannya, namun mulut tak sanggup untuk memanggil namanya
Dan hati yang akan selalu siap menampung segala rasa yang terkunci sangat dalam

Mereka menyebutnya "Jatuh cinta dalam diam"
Tapi bagiku bukan,
Ada kalanya kita hanya perlu untuk mendekatkan diri kepada yang maha kuasa agar apa yang kita butuhkan lekas dikabulkan
Bagaimana bisa kau berjuang untuk seseorang, tapi kau lupa untuk terus berikhtiar kepada dzat yang maha membolak-balikan hati
Bagaimana bisa kau mencintai ciptaan-Nya namun kau mengacuhkan penciptanya
Simpanlah perasaanmu untuk sementara, yang maha kuasa akan selalu tau apa yang terbaik untukmu
Dan percayalah, semua akan berakhir dalam skenario yang terindah
Jika memang akhirnya kau tak dipersatukan dengan seseorang yang selalu kau sebut namanya dalam tiap do'amu, mungkin kau akan dipersatukan dengan seseorang yang selalu menyebut namamu dalam do'anya tanpa pernah kau ketahui.

-Nmz-
Subang, 3 Juni 2018
01.01 WIB