ISLAM [Di Masa Millenial]

Aku mematung dalam sebuah ruangan dengan pencahayaan tak terlalu terang
Pikiranku membawaku melompat dari satu masa ke masa yang lain
Kulihat dalam satu masa, sekumpulan orang tertawa dengan begitu lantang padahal mereka tengah melakukan dosa yang teramat besar
Kulihat dalam masa yang lain, beberapa orang tengah melakukan sesuatu yang terlarang namun mereka bersumpah bahwa itu semua atas nama ISLAM.
Miris.
Kulihat lagi di masa yang berbeda, Seorang wanita dan lelaki yang bukan mahromnya melakukan hal yang sama sekali tak pantas dilakukan, namun mereka bersembunyi dibalik embel-embel "Relationship Goal's"
Ada juga disana, beberapa kaum muslimah yang menggunakan pakaian syar'i, mereka tengah berdakwah atas nama Allah dan Rosul-Nya, namun kaum lain mengolok-ngoloknya dengan ucapan
"Alah, ngapain pake hijab lebar-lebar gak modis"
"Hati dulu tutupin, baru aurat"
"Sok suci banget sih. Gak usah sok ngasih tau deh, benerin diri sendiri aja dulu"
Aku menangis. Sungguh menyedihkan, bukan?
Tak bisa dipungkiri, itulah gambaran islam masa kini
Dimana kaum Muslim/Muslimah yang melekatkan nama Allah dan Rosul di hatinya selalu dicaci dan dimaki
Sedangkan kaum yang melanggar ketentuan-Nya selalu dipuji dan disanjung
Mereka mengejar kebahagian dalam dunia yang semu sampai mereka lupa perihal akhirat yang kekal

Waktu akan terus berjalan, Pun puluhan masa akan lekas kita lewati
Namun ingatlah,
Tuhan kita tetap Allah Swt

Semoga kalian yang membaca ini akan tetap memegang kuat ajaran Islam dan tetap berada di jalan Allah Swt. Aamiin.

-Nmz-
Subang, 20 Juli 2018
11.30 pm

Perihal Penantian

Untuk kesekian kalinya,
Aku terpaku dalam ruang yang dipenuhi kenangan masa lalu
Terkadang, masa lalu yang sudah kubiarkan pergi tetap memaksaku untuk kembali
Cerita usang yang memang masih berada dalam ambang ketidakpastian sudah kubiarkan mati
Pun perasaanku yang sampai detik ini masih untuknya tak lagi ku gubris

Bukan,
Aku bukan menyakiti diriku sendiri
Aku hanya berusaha menempatkan di titik mana aku harus berjuang

Tak bisa kupungkiri,
Sulit rasanya untuk mengubur masa lalu, sulit pula untuk mengubur rasa untuknya
Namun,
Cita-cita serta kewajibanku sebagai umat Muslimah memaksaku untuk menelan bulat kenyataan bahwa fitrah yang diberi oleh sang Maha Kuasa hanya akan menjadi perasaan yang kusimpan rapi dalam ruang pilu yang kian menyiksaku

Ketahuilah,
Tak mudah bagi seorang wanita untuk jatuh cinta
Wanita adalah mulia
Ia tak mungkin mengorbankan kemuliannya demi mendapat timbal balik atas perasaannya
--begitupun aku

Biarlah waktu menjawab semua penantianku
Aku tak pernah pergi,
Aku hanya menjaga kemuliaanku dan mengejar mimpi serta ambisiku
Biarlah yang Maha Kuasa memainkan skenario terbaik-Nya
Semoga yang terbaik untukku, pun untukmu.

-Nmz-
Subang, 20 Juli 2018
11.18 pm

[Komorebi] Kisah yang Nyaris Usai

Air mata selalu mengalir deras saat aku tak sengaja mengundang masa lalu memenuhi ruang pikiranku
Mereka seolah enggan pergi dari benakku,
Padahal mereka tau kisah kita telah usai walau ditopang dengan ketidakpastian

Pada akhirnya, kita memilih untuk berjalan masing-masing
Kau dengan ambisimu, dan aku dengan cita-cita serta impianku
Padahal, kita masih akan tetap berada dibawah langit yang sama
Pun berpijak diatas bumi yang sama
Namun, Kelak kamu bukan lagi orang yang sama
Atau kamu masih orang yang sama namun dengan perasaan yang berbeda
Begitupun aku,
Tak selamanya aku akan terus terjebak dalam ruang hatimu
Ada saatnya aku akan tersenyum ikhlas ketika melihatmu, walaupun nyatanya kamu hanya akan tetap menjadi bahagiaku di masa lalu
Dan kamu hanya akan menjadi kisahku di masa putih abu

Namamu memang perlahan akan sirna, begitupun dirimu yang kian hari kian menjadi kenangan
Namun aku tau,
Ada kalanya aku perlu membuka kenangan itu
Agar aku selalu ingat,
Bahwa aku pernah berjuang dan bertahan walau ditopang ketidakpastian
Bahwa aku tumbuh dari rasa sakit dan dipatahkan berulang kali
Bahkan itu lebih buruk dari sekedar patah hati
Kian hari pun aku semakin sadar, bahwa masa lalu memang selalu menumbuhkan rasa ikhlas dalam menerima kenyataan

Dan untukmu, komorebi-ku.
Terimakasih.

-Nmz-
24 Juni 2018
11.40 pm

[Komorebi] Sekuel cerita yang usang

Sajakku benar-benar usang
Tiap aksara yang senantiasa menghiasinya kini sirna
Mereka bertaburan di ambang harapan yang tak kunjung menemukan titik pasti
Guratan aksara dalam sajakku enggan kembali,
Mereka bersikeras akan tetap berada disana sampai kau kembali,
Mereka menunggu jari-jariku kembali menuliskan namamu diantara aksara-aksara yang selalu kuukir dalam sajakku
Mereka merindukanmu, Aksara serta sajakku merindukanmu --apalagi aku
Sekuel cerita bersamamu memang belum usai,namun mereka hanya dipaksa berhenti tanpa menemukan bagaimana akhirnya
Bahkan kisah ini tak tau apakah ia akan berakhir bahagia atau berakhir bersama goresan luka, Ia gusar, menunggu bagaimana akhirnya.

Perasaanku mati seketika,
Aku bahkan lupa bagaimana caranya bahagia
Aku tak tau mana bahagia, aku juga tak tau mana luka
Semua tampak abu-abu

Kelak,
Bahagiaku bukan lagi kamu
Kamu-pun tak akan lagi menjadi alasan dari tiap lukaku
Namun,
Tetap saja, jika mengingat masa putih abu kamu akan tetap menjadi nama pertama yang terlintas
Kamu-pun akan menjadi seseorang yang paling banyak mengisi sekuel cerita hidupku yang belum usai

-Nmz-
22 Juni 2018
11.11 pm

(Bukan) Komorebi

5.658 kata tersusun dalam belasan sajak yang kurangkai berima,
Sosokmu kian menari bersama sajak yang kubiarkan berada di ambang imajinasi
Belasan puisi kubiarkan terpampang bersama harapan yang tak tau arah
Ketidakpastianmu tak lagi ku gubris, karena ribuan kata telah mewakilkan apa yang sempat kurasakan
Kepergianmu pula tak lagi ku tangisi, karena belasan sajak telah menyimpan rapi namamu dalam tiap abjad yang kuukir bersama kata yang menyimpan berjuta makna
Terimakasih kusampaikan kepadamu, tuan
Karena dahulu kau telah sudi membiarkan namamu senantiasa menghiasi tiap bait sajakku
Tak lupa pula kusampaikan maaf padamu,tuan
Karena kepergianmu kali ini membuatku tak akan lagi membiarkan namamu terukir bersama kata-kata dalam sajakku.

-Nmz-
Subang, 10 Juni 2018
12.19 pm

Penciptanya atau ciptaan-Nya?

Puncak dari rasa sayang itu adalah ketika kata-kata terkunci dalam mulut dan enggan mengatakan apa yang dirasa
Namun, senantiasa menyebut namanya dalam tiap kidung do'a
Karena tak ada yang lebih indah dari perasaan dalam diam

Perasaan yang tumbuh besar namun enggan untuk disampaikan
Mata yang senantiasa memerhatikan keberadaannya, namun mulut tak sanggup untuk memanggil namanya
Dan hati yang akan selalu siap menampung segala rasa yang terkunci sangat dalam

Mereka menyebutnya "Jatuh cinta dalam diam"
Tapi bagiku bukan,
Ada kalanya kita hanya perlu untuk mendekatkan diri kepada yang maha kuasa agar apa yang kita butuhkan lekas dikabulkan
Bagaimana bisa kau berjuang untuk seseorang, tapi kau lupa untuk terus berikhtiar kepada dzat yang maha membolak-balikan hati
Bagaimana bisa kau mencintai ciptaan-Nya namun kau mengacuhkan penciptanya
Simpanlah perasaanmu untuk sementara, yang maha kuasa akan selalu tau apa yang terbaik untukmu
Dan percayalah, semua akan berakhir dalam skenario yang terindah
Jika memang akhirnya kau tak dipersatukan dengan seseorang yang selalu kau sebut namanya dalam tiap do'amu, mungkin kau akan dipersatukan dengan seseorang yang selalu menyebut namamu dalam do'anya tanpa pernah kau ketahui.

-Nmz-
Subang, 3 Juni 2018
01.01 WIB

Monokrom

Belasan foto yang dibalut dengan warna monokrom menghiasi dinding bangunan tempat dimana kita selalu menghabiskan waktu bersama
Potretku dan dirimu terpampang jelas disana
Kamu selalu terlihat gagah dengan menggunakan tas keril,sepatu dan juga jaket gunungmu itu
Belasan foto monokrom sebanding dengan belasan gunung yang telah kita daki bersama
Aku tau,
Bagimu monokrom adalah sebuah keindahan
Katamu, Hitam dan putih adalah warna yang berhasil melahirkan warna-warna indah lainnya
Karena hitam dan putih juga adalah warna yang mewakili kenyataan hidup yang tak bisa diprediksi
Mungkin itu salah satu dari sekian banyak alasanmu mencintai monokrom

Dua bulan yang lalu, tepatnya pada tanggal 20 November
Kau memutuskan untuk membawaku pergi ke titik setinggi gunung Rinjani
Gunung dengan segara anak yang teramat mengagumkan
Akankah Rinjani menjadi tempat terakhir kita mendaki bersama?
Akankah kenangan terakhir kita terkubur diatas kawah Rinjani?

Aku tersenyum mengingatmu
Mengingat filosofi monokrom yang kau lontarkan
Dan juga mengingat Rinjani

Hari ini,
Aku janji akan menemuimu
Aku akan memberikan salah satu dari belasan koleksi foto monokrom yang berisi potret kita berdua
Kau terlihat tampan di foto itu dengan memegang papan bertuliskan 'Top Mt.Rinjani', hanya saja matamu terlihat sedikit sayu
"Aku mencintamu, Pun jika memang tidak di dunia ini. Tapi nanti di dunia yang lebih abadi" Ucapmu saat itu
Aku tersenyum kaku karena aku tak mengerti maksudmu

Kini aku tepat berada didepanmu
Aku kembali tersenyum meski air mata tak bisa kubendung
"Aku mencintamu, Pun jika memang tidak di dunia ini. Tapi nanti di dunia yang lebih abadi" Ucapku, mengulang kata-kata yang ucapkan dua bulan yang lalu. Kini aku mengerti apa maksudmu.
Aku tak pernah cukup tegar untuk berlama-lama ditempat ini
Aku bergegas pergi,
Setelah menyimpan foto monokrom didepan nisan mu.

'Semoga kita bertemu di dunia yang abadi'


-Nmz-
Subang, 31 Mei 2018
12.17 WIB